Sabtu, 14 Maret 2020

Model-model Belajar dan Rumpun Model Mengajar


MAKALAH

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

 “ Model-model Belajar dan Rumpun Model Mengajar “



DISUSUN OLEH :

   Nama    : Monita Utami
      Bp       : 1820180
    Kelas    : PGSD 44

DOSEN PEMBIMBING
Yessi Rifmasari, M. Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020









A. Pengertian Cooperative Learning
Pembelajaran cooperative learning bukanlah gagasan baru dalam dunia pendidikan, tetapi sebelum masa belakangan ini, metode ini hanya digunakan oleh beberapa guru untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti tugas-tugas atau laporan tertentu.
Beberapa pakar pendidikan mendefinisikan cooperative learning, sebagai berikut :
a.  Menurut Salvin (1995)
Mengemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran yang mana system belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siwa lebih semangat dalam belajar.
b.  Menurut Anite lie (2000)
Cooperative learning adalah pembelajaran gotong-royong yang mana system pembelajarannyamemberi kesempatan peserta didik untuk bekerja sama denagn peserta lain dalam tugas-tugas yang terstruktur (tugas yang telah ditentukan)
c.   Menurut Azizah (1998)
Cooperative learning merupakan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan.

Dari beberapa definisi diatas dapat diperoleh bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Falsafah yang mendasari pembelajaran cooperative learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.

B. Karakteristik Cooperative Learning

            Pada hakekatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok, akan tetapi   tidak. Setiap kerja kelompok dikatakan cooperative learning, Bennet (1995) dalam Made Wena (2010: 12) menyatakan ada lima unsur dasar yang dapat membedakan cooperative learning dengan kerja kelompok, antara lain:

1.     Positive Independence (saling ketergantungan positif) yaitu hubungan timbal balik yang didasari danya kepentingan yang sama.

2.    Personal Responsibility (tanggung jawab perseorangan)yaitu mengenal materi pelajaran dalam anggota kelompok. Sehingga siswa termotivasi untuk membantu temannya membutuhkan keluwesan.

3.    Face to Face Promotive Interaction (interaksi promotif) yaitu interaksi yang langsung terjadi antara siswa tanpa adanya perantara.

4.    Interpersonal Skill (komunikasi antar anggota) yaitu menciptakan hubungan antar pribadi, mengembangkan kemampuan kelompok dan memelihara hubungan kerja yang efektif.

5.    Group Processing (pemrosesan kelompok) yaitu meningkatkan ketrampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah.

 
C. Pengertian Rumpun Model Pembelajaran
Model pembelajaran diartikan sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan siswa, serta sumber belajar yang digunakan didalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang memungkinkan siswa mampu belajar. Didalam model pembelajaran terdapat karakteristik urutan tahapan kegiatan guru dan siswa dalam peristiwa pembelajaran yang dikenal dengan sintaks. Di balik tahapan pembelajaran tersebut terdapat rasional yang merujuk pada suatu teori belajar tertentu. Rasional tersebut merupakan karakteristik yang membedakan satu model dengan  model lainnya (Indrawati, 2000).
Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar
Model pembelajaran diartikan sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan siswa, sumber belajar yang digunakan di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang memungkinkan siswa mampu belajar. Di dalam model pembelajaran terdapat karakteristik urutan tahapan kegiata guru dan siswa dalam peristiwa pembelajaran yang dikenal dengan sintaks.  (Indrawati, 2000).

D. Pengertian Model Pemprosesan Informasi

Model ini berlandaskan teori belajar kognitif, yang dimana berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuannya. Menurut Oemar Hamalik (2011: 128-129) Pemrosesan informasi tersebut merujuk bagaimana cara-cara atau menerima informasi stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal. Kemudian menurut Syaiful sagala (2012,74) informasi yang diberikan dalam bentuk energy fisik tertentu (sinar untuk bahan tertulis, bunyi untuk bahan ucapan, tekanan untuk sentuhan, dll) diterima oleh reseptor yang peka terhadap tanda dalam bentuk-bentuk tertentu. Pada model ini, mengutamakan bagaimana membantu siswa agar mampu berpikir produktif, memecahkan masalah dengan kemampuan intelektual yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Model pemprosesan informasi pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengordinasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya. Beberapa model dalam kelompok ini memberikan kepada para siswa sejumlah konsep, sebagian lagi menitikberatkan pada pembentukan konsep dan pengetesan hipotesis, dan sebagian lainnya memusatkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. Beberapa model sengaja dirancang untuk memperkuat kemampuan intelektual umum.
Menurut Robert M gagne dalam Rusman (2014: 139-140) dalam proses pembelajaran model pemrosesan informasi terdiri dari delapan fase, yakni sebagai berikut.
1.   Motivasi, fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu (motivasi instrinsik dan ekstrinsik);
2.  Pemahaman, fase ini individu menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran. Pemahaman didapat melalui perhatian;
3.  Pemerolehan, individu memberikan makna/mempersepsikan segala informasi yang pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori peserta didik;
4.   Penahanan, menahan informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori siswa;
5.  Ingatan kembali, mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada rangsangan;
6.  Generalisasi, menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu;
7.  Perlakuan, perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran;
8.  Umpan balik, individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.

E.   Pengertian Model Personal
Model personal (personal family) merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada proses pengembangan kepribadian individu siswa dengan memperhatikan kehidupan emosional. Hal ini meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri. Model memfokuskan pada konsep diri yang kuat dan realistis untuk membantu membangun hubungan yang produktif dengan orang lain dan lingkungannya.
Model ini bertitik tolak dari teori humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan individu. Perhatian utamanya pada emosional peserta didik dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Menurut teori ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar peserta didik merasa bebas dalam belajar mengembangkan dirinya baik emosional maupun intelektual.
Tujuan model pembelajaran personal adalah untuk meningkatkan kesehatan mental dan emosional anak-anak, dan keterlibatan anak-anak dalam menentukan/memilih apa yang ingin dipelajari dan bagaimana mempelajarinya, sehingga ada kesesuaian yang tinggi antara bahan belajar dengan kebutuhan anak, mengembangkan pemahaman diri ( self-consept), kreativitas, dan kemampuan anak dalam mengekspresikan diri dengan lebih baik. Model personal dan sosial dapat diterapkan untuk mencapai tujuan sosial dan akademis, akan tetapi masing-masing model memiliki kekuatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.

F.   Pengertian Model Sosial
Modal sosial adalah sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat dalam bentuk norma-norma atau nilai-nilai yang memfasilitasi dan membangun kerja sama melalui jaringan interaksi dan komunikasi yang harmonis dan kondusif. Modal sosial memberi kekuatan atau daya dalam beberapa kondisi-kondisi sosial.
Modal sosial dalam bentuk kewajiban sosial yang diinstitusionalisasikan ke dalam kehidupan bersama, peran, wewenang, tanggung-jawab, sistem penghargaan dan keterikatan lainnya yang menghasilkan tindakan kolektif. Modal sosial sebagai hubungan yang tercipta dari norma sosial yang menjadi perekat sosial, yaitu terciptanya sebuah kesatuan dalam anggota kelompok secara bersama-sama. Modal sosial timbul dari interaksi antara orang-orang dalam suatu komunitas. Pengukuran modal sosial dapat dilihat dari interaksi baik indiviual maupun institusional, seperti terciptanya atau terpeliharanya kepercayaan antar warga masyarakat.
      Berikut ini beberapa pengertian modal sosial dari beberapa sumber buku:
1.    Menurut Prusak L (Field, 2010:26), modal sosial adalah hubungan yang terjadi dan diikat oleh suatu kepercayaan (trust), saling pengertian (mutual understanding), dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama secara efisien dan efektif. 
2.   Menurut Hasbullah (2006), modal sosial adalah jumlah sumber-sumber daya, aktual atau virtual (tersirat) yang berkembang pada seorang individu atau sekelompok individu karena kemampuan untuk memiliki suatu jaringan yang dapat bertahan lama dalam hubungan-hubungan yang lebih kurang telah diinstitusikan berdasarkan pengetahuan dan pengenalan timbal balik. 
3.   Menurut Partha dan Ismail (2009), modal sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta dan norma-norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat dalam spektrum yang luas, yaitu sebagai perekat sosial (social glue) yang menjaga kesatuan anggota kelompok secara bersama-sama.





DAFTAR PUSTAKA

 Wena, Made. 2010. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta:Bumi Aksara. 

Hamdani, dkk. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung :Pustaka Setia.

Mulyono. 2011. Strategi Pembelajaran: Menuju Efektifitas Pembelajaran di Abad Global. Malang: UIN-Maliki Press (Anggota IKAPI).

Hasbullah, J. 2006. Social Capital: Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia. Jakarta: MR-United Press.


5 komentar:

  1. Materinya bagus, saya ingin bertanya kan pengertian dariGroup Processing (pemrosesan kelompok) yait u meningkatkan ketrampilan bekerja sama,,bagaimana cara meningkatkan keterampilan bekerja sama?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaitu dengan cara mengahargai dan menyadari bahwa kita saling membutuhkan, dan harus saling bekerjasama

      Hapus
  2. Menurut saudari belajar dengan competitive learning apakah sudah tepat?

    BalasHapus