TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
“ Keterampilan Dasar Mengajar “
Disusun
Oleh:
Nama :
Monita Utami
NIM :
1820180
Kelas :
PGSD 44
DOSEN
PENGAMPU
Yessi Rifmasari, M. Pd.
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020
A. Keterampilan Membuka Dan
Menutup Pembelajaran
Keterampilan
membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan
mental dan menimbulkan perhatian siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa terpusat
pada hal-hal yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran tidak mencakup
urut-urutan kegiatan rutin seperti menertibkan siswa, mengisi daftar hadir,
menyampaikan pengumuman, menyuruh menyiapkan alat-alat pelajaran dan buku-buku
yang akan dipakai dan lain sebagainya yang tidak berhubungan dengan penyampaian
materi pelajaran. Kegiatan membuka pelajaran ada kaitannya langsung dengan
penyampaian materi pelajaran.
Kegiatan
menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk me-ngakhiri
kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk
memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa,
mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses
belajar mengajar. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru antara lain adalah
merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi
tentang materi pelajaran yang baru diberikan. Seperti halnya kegiatan membuka
pelajaran, kegiatan menutup pelajaran ini harus dilakukan guru tidak saja pada
akhir jam pelajaran tetapi juga pada akhir setiap penggal kegiatan dari inti
pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Seperti halnya kegiatan
membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran juga tidak mencakup urut-urutan
kegiatan rutin seperti memberi tugas dirumah, tetapi kegiatan yang ada kegiatan
langsung dengan penyampaian materi pelajaran.
Penggunaan
keterampilan membuka dan menutup pelajaran dalam pembelajaran, mempunyai
pengaruh positif terhadap proses dan hasil belajar. Pengaruh positif itu antara
lain:
1.
Timbulnya perhatian dan motivasi
siswa untuk menghadapi tugas-tugas yang akan dikerjakan.
2. Siswa
mengetahui dengan pasti batas-batas tugas yang akan dikerjakan.
3. Siswa
mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan-pendekatan yang mungkin
diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari suatu mata pelajaran.
4. Siswa
mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang telah dikuasai dengan
hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang masih asing baginya.
5. Siswa
dapat menggabungkan fakta-fakta, keterampilan-keterampilan atau konsep-konsep
yang tercakup dalam suatu peristiwa, serta
6. Siswa
dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mempelajari pelajaran itu,
Sedangkan guru dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mengajar.
Sebagaimana
keterampilan mengajar lainnya, ada prinsip-prinsip yang mendasari penggunaan
komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran yang harus dipertimbangkan
oleh guru. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut:
1.
Bermakna
Dalam usaha menarik
perhatian atau memotivasi siswa guru hendaknya memilih cara yang relevan dengan
isi dan tujuan pelajaran. Cara atau usaha yang sifatnya dicari-cari atau
dibuat-buat hendaknya dihindarkan. Ceritera singkat atau lawakan yang tidak ada
hubungannya dengan pelajaran mungkin sementara bisa memikat siswa tetapi akan
gagal dalam mewujudkan kelangsungan penguasaan pelajaran
2.
Berurutan dan berkesinambungan
Aktivitas yang ditempuh oleh guru
dalam memperkenalkan dan merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran
hendaknya merupakan bagian dari kesatuan yang utuh. Dalam mewujudkan prinsip
berurutan dan berkesinambungan ini perlu diusahakan suatu susunan yang tepat,
berhubungan dengan minat siswa, ada kaitannya yang jelas antara satu bagian
dengan bagian lainnya, atau ada kaitannya dengan pengalaman dan pengetahuan
yang telah dimilki siswa.
Komponen-Komponen
Keterampilan Membuka Pelajaran
Penerapan
keterampilan membuka pelajaran pada awal suatu jam pelajaran atau pada setiap
penggal kegiatan dalam inti pelajaran, guru harus melakukan kegiatan membuka
pelajaran. Komponen-komponen keterampilan membuka pelajaran itu meliputi:
menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberikan acuan dan membuat
kaitan. Tiap komponen terdiri dari beberapa kelompok aspek dan kegiatan yang
saling berhubungan. Sebagai keterampilan maka sifatnya integratif dan ada
beberapa komponen yang tumpang tindih. Komponen-komponen dan aspek-aspeknya
menurut Abimanyu (1985) adalah sebagai berikut:
1. Menarik
perhatian siswa
Banyak
cara yang dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa, antara lain
seperti berikut:
a.
Gaya mengajar guru.
b.
Penggunaan alat bantu mengajar
c.
Pola interaksi yang bervariasi
2. Menimbulkan
motivasi
Guru
hendaknya melakukan berbagai cara untuk menimbulkan motivasi itu. Sedikitnya
ada 4 (empat) cara untuk menimbulkan motivasi, yaitu:
a.
Dengan kehangatan dan
keantusiasan.
b.
Dengan menimbulkan rasa ingin
tahu
c.
Mengemukakan ide yang
bertentangan
d.
Dengan memperhatikan minat siswa
3. Memberi
acuan (structuring)
hal-hal
yang akan dipelajari dan cara yang hendak ditempuh dalam mempelajari materi
pelajaran. Untuk itu usaha dan cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah:
a.
Mengemukakan tujuan dan
batas-batas tugas.
b.
Menyarankan langkah – langkah
yang akan dilakukan
c.
Mengingatkan masalah pokok
yang akan dibahas
d.
Mengajukan pertanyaan –
pertanyaan
4. Membuat
kaitan
Jika
guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru, guru perlu menghubungkannya
dengan hal-hal yang telah dikenal siswa atau dengan pengalaman-pengalaman,
minat, dan kebutuhan-kebutuhan siswa. Hal itulah yang disebut bahan pengait.
Contoh usaha-usaha guru untuk membuat kaitan:
a.
Membuat kaitan antar aspek-aspek
yang relevan dari bidang studi yang telah dikenal siswa. Dalam permulaan
pelajaran guru meninjau kembali sampai seberapa jauh pelajaran yang diberikan
sebelumnya telah dipahami. Caranya, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan
pada siswa, tetapi dapat pula merangkum isi materi pelajaran terdahulu secara
singkat. Misalnya, sebelum mengajarkan pembagian dua pecahan, guru mengulang
kembali bagaimana mengalikan bilangan pecahan.
b. Guru
membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang
telah diketahui. Hal ini dilakukan jika bahan baru itu erat kaitannya dengan
bahan pelajaran yang telah dikuasai. Misalnya, guru lebih dahulu mengajukan
pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pengurangan dan
perkalian bilangan cacah sebelum mengajarkan pembagian bilangan cacah.
c.
Guru menjelaskan konsep atau
pengertiannya lebih dahulu sebelum menyajikan bahan secara terperinci. Hal ini
dilakukan karena bahan pelajaran yang akan dijelaskan sama sekali baru.
Misalnya, untuk menjelaskan perkalian dua guru terlebih dahulu menjelaskan
jumlah kaki unggas, seperti ayam, itik, burung, sepeda, sepeda motor, dan
sebagainya.
Komponen-Komponen Keterampilan Menutup
Pelajaran
Menjelang
akhir dari suatu pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru harus
melakukan kegiatan menutup pelajaran. Hal ini harus dilakukan agar siswa
memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang telah
dipelajari. Menurut Abimanyu (1985) cara-cara yang dapat dilakukan guru dalam
menutup pelajaran ini adalah sebagai berikut:
1.
Meninjau Kembali
Menjelang
akhir suatu jam pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru
meninjau kembali apakah inti pelajaran yang diajarkan telah dikuasai siswa. Ada
dua cara meninjau kembali penguasaan inti pelajaran itu, yaitu merangkum inti pelajaran
dan membuat ringkasan.
a.
Merangkum inti pelajaran.
b. Membuat
ringkasan
2. Mengevaluasi
Salah
satu upaya untuk mengetahui apakah siswa sudah memperoleh wawasan yang utuh
tentang suatu konsep yang diajarkan selama satu jam pelajaran atau sepenggal
kegiatan tertentu adalah dengan penilaian. Untuk maksud tersebut guru dapat
meminta siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau mengerjakan
tugas-tugas.
Bentuk-bentuk
evaluasi itu secara terperinci adalah sebagai berikut:
a.
Mendemonstrasikan keterampilan.
b. Mengaplikasikan
ide baru pada situasi lain
c.
Mengekspresikan pendapat siswa
sendiri
d. Soal
– soal tertulis
B.
Keterampilan Membimbing
Diskusi Kelompok Kecil
1.
Pengertian diskusi kelompok kecil
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses kegiatan yang berlansung secara
terkontrol dan teratur, dengan beberapa orang saling bertatap muka digabung
menjadi satu kelompok atau kelompok kecil yang saling berinteraksi
mengungkapkan pemikiran masing-masing. Diadakannya diskusi kelompok kecil, agar
peserta didik dapat saling bertukar informasi ataupun pengalaman, sehingga
peserta didik mampu menyelesaikan atau memecahkan suatu masalah.
2.
Tujuan
diskusi
Adapun tujuan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, yaitu :
1.
Agar peserta didik dapat memberi dan menerima informasi baru maupun
pengalaman dalam memecahkan suatu masalah.
2. Agar peserta didik dapat
mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir dan berkomunikasi dengan
orang lain.
3. Melibatkan peserta didik
dalam perencanaan dan penggambilan keputusan.
3. Manfaat diskusi
bagi peserta didik
Kegiatan diskusi sering dilakukan dalam pembelajaran ketika membahas suatu
permasalahan atau topik dan mewajibkan peserta didik dibagi menjadi beberapa
kelompok kecil. Dilakukannya diskusi untuk melatih peserta didik mengungkapkan
pendapatnya, saling berbagi informasi untuk memperoleh kesimpulan bersama.
Adapun manfaat diskusi bagi peserta didik, sebagai berikut :
a. Mengembangkan kemampuan berpikir.
b. Mengembangkan kemampuan
berkomunikasi.
c. Meningkatkan motivasi belajar.
d. Mengembangkan sikap saling
membantu.
e. Meningkatkan pemahaman.
f. Meningkatkan keterlibatan dalam
perencanaan dan pengambilan keputusan
g. Berbagi informasi dan pengalaman dalam memecahkan masalahMeningkatkan
kerjasama yang sehat.
h. Meningkatkan toleransi.
4. Tahap-tahap
kegiatan diskusi
Adapun tahap-tahap dalam kegiatan diskusi kelompok, yaitu:
a. Memusatkan perhatian
peserta didik. 1) Merumuskan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi, dinyatakan
melalui pernyataan dan pertanyaan yang meningkatkan rasa ingin tahu peserta
didik. 2) Mengemukakan masalah-masalah khusus. 3) Catat perubahan-perubahan
yang tidak relevan atau menyatakan kembali bila terjadi penyimpangan diskusi
dari tujuan atau masalah pokok yang sedang dipecahkan. 4) Rangkum hasil
pembicaraan diskusi yang telah dilakukan.
b. Memperjelas pendapat
peserta didik. Adapun cara untuk membantu mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik,
yaitu: 1) Mengurai kembali gagasan peserta didik yang kurang jelas menjadi
lebih jelas sehingga semua anggota kelompok menjadi paham. 2) Pendidik meminta
peserta didik komentar melalui pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka
memperjelas atau mengembangkan ide-ide tersebut. 3) Menguraikan gagasan peserta
didik dengan memberikan informasi-informasi tambahan atau contoh-contoh
dilingkungan sekitar yang sesuai dengan topiik bahasan, sehingga semua kelompok
memperoleh pengetahuan yang lebih jelas dan
c. Menganalisis pandangan
peserta didik. Pada kegiatan diskusi akan ada banyak perbedaan pendapat di antara anggota
kelompok. Dengan adanya perbedaan pendapat tersebut, pendidik hendaknya mampu
menganalisis alasan perbedaan pendapat tersebut dengan cara sebagai berikut: 1)
Meneliti apakah alasan tersebut mempunyai dasar yang kuat atau tidak. 2)
Memperjelas kembali hal-hal yang disepakati maupun yang tidak disepakati
sebelumnya.
d. Meningkatkan kontribusi
peserta didik. Yakni, 1) Pendidik bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang
agar peserta didik berpikir secara kritis. 2) Memberikan contoh-contoh secara
verbal yang sesuai dengan topik bahasan secara tepat. 3) Pendidik memberikan
waktu peserta didik untuk berpikir. 4) Memberikan apresiasi.
e. Menyebarkan kesempatan
berpartisipasi. Yakni, 1) Mencoba memancing pendapat peserta didik yang enggan
berpartisipasi dalam diskusi dengan mengarah langsung dengan bijaksana. 2)
Mencegah terjadinya pembicaraan yang serentak dengan memberi kesempatan kepada
peserta didik yang pendiam terlebih dahulu. 3) Secara bijaksana mencegah
peserta didik yang sering memonopoli pembicaraan. 4) Pendidik dapat meminta
peserta didik untuk berkomentar tentang pendapat temannya sehingga interaksi
peserta didik dapat ditingkatkan.
f. Menutup diskusi. Yakni, 1) Dengan adanya
bantuan peserta didik, membuat rangkuman hasil diskusi yang telah dilakukan. 2)
Memberi gambaran tentang tindak lanjut hasil diskusi atau tentang topik yang
akan dibahas 3) Mengajak peserta didik untuk menilai proses maupun hasil
diskusi yang telah dicapai.
5. Syarat kelompok yang efektif
Untuk menjadikan kelompok diskusi yang efektif memiliki syarat sebagai
berikut:
a.
Anggota kelompok heterogen, kelompok yang terdiri dari peserta didik yang
berbeda-beda kemampuan, dari yang kemampuan akademisnya tinggi,sedang hingga
yang berkemampuan kurang.
b.
Anggota mampu mengatasi masalah tersebut setelah menyadari dan memahami
potensi serta kelemahan dan potensi untuk mengatasi masalah yang dibahas.
c.
Masalah yang dibahas mengakibatkan timbulnya berbagai jawaban yang
berbeda-beda.
d.
Tiap anggota bertanggung jawab memberikan sumbangan untuk mencapai tujuan
kelompok.
e.
Dalam kegiatan kelompok terjadi proses pertukaran pendapat.
1 6. Peran pendidik dalam diskusi
1.
Koordinator belajar, pendidik dapat mengkoordinir segala sesuatu yang dapat
meningkatkan kemajuan belajar peserta didik.
2.
Fasilitator, pendidik dapat membantu mengelola suatu proses pertukaran
informasi dalam suatu kelompok dan membantu bagaimana diskusi berlangsung.
3.
Perencana tugas bersama, pendidik yang merencanakan tugas yang harus
dikerjakan oleh peserta didik.
4.
Katalisator adalah penghubung antar informasi dengan peserta
5.
Pemadu aktifitas peserta didik.
6.
Narasumber, pendidik sebagai narasumber untuk membantu peserta didik
menyelesaikan suatu masalah, baik masalah individu maupun masalah sosial.
7.
Penilai kemajuan kelompok.
C. Keterampilan Mengelola Kelas
1.
Pengertian keterampilan
mengelola kelas
a.
Usman, 2013)
pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara
kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam
proses belajar mengajar.
b. Menurut (Wardani, 2005) keterampilan
mengelola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan mempertahankan
kondisi yang optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu serasi dan
efektif.
c.
Menurut (Wina
Sanjaya, 2005) bahwa pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan
dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala
terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran.
d. Menurut (Winataputra, 2004) keterampilan
mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar
yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang
terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan
mengelola kelas merupakan keterampilan yang digunakan oleh seorang guru dalam
proses pembelajaran guna untuk mengkondisikan belajar siswa dengan
harapan supaya terjadi suatu kondisi kelas yang kondusif, memaksimalkan sarana
dan prasarana, menjaga keterlibatan siswa, menciptakan dan mempertahankan
kondisi belajar yang optimal dan rasa nyaman dalam proses belajar mengajar.
Maka dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas, perlu memperhatikan
komponen keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan
kondisi belajar yang optimal. Hal ini berkaitan dengan kemampuan seorang guru
dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran.
2. Tujuan
pengelolaan kelas
Menurut (Usman, 2002) pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu
tujuan umum dan tujuan khusus.
a. Tujuan umum pengelolaan kelas adalah
menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan
belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.
b. Tujuan khususnya adalah mengembangkan
kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan
kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu
siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
3. Komponen
keterampilan mengelola kelas
Menurut ( Wardani, 2005) komponen keterampilan mengelola kelas meliputi:
1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan
kondisi belajar yang optimal.
2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang
optimal.
a.) Modifikasi
tingkah laku.
b.) Pengelolaan/ proses kelompok.
c.) Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang
menimbulkan masalah.
4.
Prinsip penggunaan keterampilan mengelola kelas
Menurut (Wardani, 2005) dalam menerapkan keterampilan mengelola kelas perlu
diingat 6 prinsip, yaitu:
1)
Kehangatan dan keantusiasan dalm mengajar, yang dapat menciptakan iklim
kelas yang menyenangkan.
2)
Menggunakan kata-kata atau tindakan yang dapat menantang siswa untuk
berfikir.
3)
Menggunakan berbagai variasi yang dapat menghilangkan kebosanan.
4)
Keluwesan guru dalam pelaksanaan tugas.
5)
Penekanan pada hal-hal yang bersifat positif.
6)
Penanaman disiplin diri sendiri
D. Keterampilan Mengajar
Kelompok Kecil Dan Perorangan
1.
Peran guru dalam mengajar kelompok kecil dan
perseorangan
Adapun peran guru dalam pengajaran kelompok kecil dan
perorangan adalah sebagai berikut:
- Organisator kegiatan belajar mengajar. Dalam pengorganisasian ini yang paling utama adalah mengatur siswa dan memberikan tanggung jawab kepadanya untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru entah itu cara siswa melakukan kegiatan, mengatur lingkunganbelajar, ataupun mengoptimalkan sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
- Sumber informasi bagi siswa. Guru adalah salah satu sumber informasi bagi siswa baik informasi mengenai langkah-langkah pelaksanaan tugas maupun informasi lainnya yang diperlukan oleh siswa
- Pendorong bagi siswa untuk belajar. Guru memberikan dorongan berupa motivasi agar siswa mau belajar. Guru harus menciptakan kondisi kelas yang merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar dalam kelompok kecil dan perseorangan
- Orang yang mendiagnosa kesulitan siswa serta memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru mempunyai peranan mendiagnosa dalam proses pembelajaran diantaranya mengenal anak secara individual mengenai kemajuan belajar ataupun kesulitan yang dihadapi
- Penyedia materi dan kesempatan belajar bagi siswa. Guru juga harus menyediakan meteri pelajaran yang akan diajarkan / dipelajari oleh siswa dalam pengajaran kelompok kecil maupun perseorangan
- Peserta kegiatan yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti siswa yang lainnya. Iniberarti guru ikut menyumbangkan pendapatnya untuk memecahkan masalah atau mencari kesepakatan bersama sebagaimana siswa lainnya melakukannya
Syarat-syarat agar mengajar kelompok
kecil dan perseorangan agar dapat terwujud Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Untuk itu
diperlukan variasi untuk menanganinya. Pengajaran kelompok kecil dan perorangan
akan terwujud jika terpenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:
1)
Adanya
hubungan yang sehat dan akrab antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa
2)
Siswa belajar
dengan kecepatan, kemampuan, cara dan minat sendiri
3)
Siswa
mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhannya
4)
Siswa
dilibatkan dalam perencanaan belajar
5)
Guru dapat
memainkan berbagai peran
2.
Prinsip-prinsip mengajar kelompok kecil dan
perorangan
Adapun prinsip-prinsip
dalam mengajar kelompok kecil dan perseorangan diantaranya:
- Tidak semua topik dapat disajikan dalam format kelompok kecil dan perseorangan
- Lakukan pengajaran kelompok kecil dan perseorangan secara bertahap
- Pengorganisasian siswa, sumber / materi, ruangan, dan waktu harus dilakukan secara cermat
- Guru harus mengenal siswa secara pribadi
Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan Dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan harus memberhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Pembelajaran dilakukan berdasarkan
perbedaan individu. Karakteristik yang
dimiliki oleh anak sd sangatlah beragam dan berbeda-beda entah itu kemampuan
berfikir,tingkat emosional, bakat, minat, maupun perbedaan daya tangkapnya.
Misal siswa yang agak agresif bisa dijadikan menjadi satu kelompok dengan siswa
yang agak agresif atau siswa yang memiliki daya tangkap agak kurang juga
dijadikan satu kelompok dengan siswa yang juga memiliki daya tangkap yang agak
kurang juga. Lalu siswa-siswa yang sudah berada di dalam kelompok-kelompoknya
diberikan layanan bimbingan belajar secara khusus. Cara ini bisa membantu
meningkatkan ketrampilan sosial melalui belajar kelompok.
2. Memperhatikan dan melayani kebutuhan
siswa. Pada dasarnya siswa
memiliki latar belakang yang berbeda-beda baik lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Misal jika ada siswa yang tidak mampu
membeli buku paket sebaiknya guru meminta siswa lainnya untuk bersedia
bersama-sama / bisa juga pihak sekolah memberikan pinjaman.
3. Mengupayakan proses belajar mengajar
yang aktif dan efektif. Cara untuk membuat
pembelajaran aktif dan efektif guru harus berusaha semaksimal mungkin aktif di
dalam memberikan bimbingan belajar. Misal setelah guru memberikan tugas diskusi
kelompok guru harus selalu mengawasi jalanya diskusi dan juga membantu /
membimbing siswa yang membutuhkan bantuan saat mengalami kesulitan.
4. Merangsang tumbuh kembangnya
kemampuan optimal siswa. Tugas guru tidak
hanya mengajar saja akan tetapi tugas guru pada dasarnya adalah membantu tumbuh
kembang siswa secara optimal baik aspek intelektual, aspek moral, aspek sosial,
maupun aspek fisik. Secara tidak langsung guru telah membantu tumbuh kembang
siswa-siswanya. Misal dari segi aspek moral, aspek emosional, aspek sosial
dilakukan melalui teladan, cara pola asuh guru terhadap siswa, tutur bicara
siswa / guru yaitu penggunaan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan
siswa. Dari segi aspek fisik misal guru mengadakan senam satu minggu sekali,
guru mengadakan ekstrakulikuler olah raga. Dan siswa bisa mengikuti
ekstrakulikuler tersebut sesuai bakat ataupun minat.
5. Pergeseran dari pengajaran klasikal
ke pengajaran kelompok dan perseorangan. Bagi calon guru sebaiknya dimulai dengan pengajaran perseorangan kemudian
secara bertahap kepada pengajaran kelompok kecil. Sedangkan bagi guru yang
sudah terbiasa menggunakan pengajaran klasikal sebaiknya mulai secara
pengajaran kelompok kemudian kepada perseorangan. Karena tidak semua topk
pembahasan bisa di selesaikan dengan cara kelompok kecil maupun perseorangan.
Misal jika siswa diminta memahami teori, konsep maupun prinsip sumber daya alam
(sda) maka akan efektif jika pembelajaran dilakukan dengan cara klasikal
sedangkan jika siswa diminta untuk membuktikan sifat-sifat konduktor, konduksi,
dan radiasi melalui eksperimen sebaiknya dilakukan secara kelompok kecil atau
perorangan.
6. Langkah pengajaran kelompok kecil
dan perorangan. Dalam kelompok kecil
langkah-langkahnya adalah mengorganisasi siswa, sumber, materi, ruangan, serta
waktu yang diperlukan. Dalam pengajaran perorangan guru terlebih dahulu harus
mengenal pribadi siswanya. Misal siswa yang memiliki kesulitan soal maematika penjumlahan
guru perlu memberikan bimbingan perseorangan.
7. Menggunakan berbagai variasi dalam
pengorganisasiannya. Ada tiga variasi
pengorganisasian yaitu variasi pengelompokan, variasi penataan ruang, dan
variasi sumber belajar. Di dalam pembelajaran pasti akan ada kebosanan
dikarenakan guru tidak akan mungkin bisa mengontrol secara terus menerus
terhadap semua kelompok belajar. Untuk menghindari kebosanan ini haruslah ada
variasi dalam pembelajaran. Misal siswa diminta memilih sendiri kelompok
belajarnya, bisa juga siswa ditawarkan untuk memilih sumber belajar yang
diinginkan saat kegiatan pembelajaran.
DAFTAR
PUSTAKA
Supriadi, didi dan Deni Darmawan. 2012 . Komunikasi Pembelajaran.
Bandung:Remaja Rosdakarya.
Sadirman. 2011. Interaksi dan motivasi belajar
mengajar Jakarta: rajawali pers.
Kurniawan, Agung Budi, Saptanto Hari Wibawa. 2014. Pelatihan Pengajaran Micro Teaching. Surakarta: Oase
Pustaka.
Suwarna, dkk. 2005. Pengajaran Mikro, Pendekatan
Praktis dalam Menyiapkan Pendidik Profesional. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Sa’ud, Udin Syaefudin. 2009. Pengembangan Profesi Guru. Bandung:
Cv. Alfabet.
Terimakasih artikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusSama2
Hapussmga dpat membatu kami dlam pelajaran ini
BalasHapusAamiin
HapusGood,,artikel ini sangat membantu sekali.ditunggu tulisan selanjutnya.
BalasHapusTerimakasih kak artikelnya sangat membantu
BalasHapusSama2
HapusArtikel yang cukup bagus
BalasHapusTerima kasih
HapusBagus👍
BalasHapusTerima kasih
HapusApa yang terjadi jika seorang guru tidak bisa membuka pelajaran dengan baik
BalasHapusSyukron
Hapus