TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
“ Kegiatan
Remedial “
Disusun Oleh:
Nama : Monita Utami
NIM : 1820180
Kelas : PGSD 44
DOSEN
PENGAMPU
Yessi Rifmasari, M. Pd.
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020
A.Pengertian Program Remedial
Menurut Izzati (2015, p.57) Remedial
berarti hal-hal yang berhubungan dengan perbaikan. Program remedial merupakan
implikasi dari teori belajar tuntas yang memerlukan upaya tambahan untuk
mengatasi dan membantu siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. Salah
satunya adalah dengan mengadakan program remedial untuk membantu siswa yang
belum mencapai ketuntasan belajar.Program remedial harus memperhatikan
perbedaan latar belakang dan kesulitan yang dihadapi masing-masing siswa agar
perbaikan yang dilakukan bisa lebih optimal
Program remedial adalah salah satu
upaya untuk membantu siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar, berupa
kegiatan perbaikan yang mencakup segala bantuan bimbingan yang diberikan kepada
siswa untuk meningkatkan hasil belajar agar mencapai ketuntasan belajar yang
diharapkan (Izzati.2015, p.57)
Konsep penyelenggaraan model
pembelajaran remedial, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa KTSP yang
diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No.
6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar
tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta
didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas SK dan KD
yang harus dikuasai peserta didikJika seorang peserta didik mencapai
standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.
Dengan diberikannya pembelajaran remedial bagi peserta didik yang belum
mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu
lebih lama daripada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga
perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran
remedial (Sumiyati.2010)
B. Karakteristik Program Remedial
Menurut Slamet (2015, p.103) Di
samping itu, latihan yang diberikan guru juga membantu siswa untuk belajar
sepanjang hayat (life-long learning), membantu mengembangkan sikap positif, dan
pengembangan nilai-nilai untuk bekal belajar selanjutnya dan pengembangan
karir. Siswa yang harus dimasukkan ke dalam kelompok pembelajaran remedial
biasanya mengalami kesulitan dalam hal, sebagai berikut:
1)
Kemampuan mengingat relative kurang
2)
Perhatian yang sangat kurang dan mudah terganggu
dengan sesuatu yang lain di sekitarnya pada saat belajar
3)
Relatif lemah dalam memahami secara menyeluruh.
4)
Lemah dalam memecahkan masalah
5)
Sering gagal dalam menyimak suatu gagasan dari sumber
informasi
6)
Mengalami kesulitan dalam memahami suatu konsep yang
abstrak.
7)
Gagal menghubungkan suatu konsep dengan konssep
lainnya yang relevan
8)
Memerlukan waktu relatif lebih lama dalam
menyelesaikan tugas
C. Tujuan dan
Fungsi Program Remedial
Tujuan pengajaran remedial menurut Abu
Ahmadi dan Widodo Supriono secara umum tidak berbeda dengan pengajaran
dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara khusus
pengajaran perbaikan bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar
dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui proses perbaikan.8
Tujuan pembelajaran remedial adalah untuk membantu siswa yang mengalami
kesulitan belajar dengan memperbaiki prestasi belajarnya.
Adapun fungsi pengajaran remedial antara lain:
a.
Fungsi korektif
Fungsi
korektif adalah dapat dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap hal-hal
yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam
proses pembelajaran.9 Sebelum proses belajar mengajar dimulai, guru
membuat perencanaan pembelajaran agar memperoleh hasil yang diharapkan.
Dengan demikian, guru dapat mengetahui perbedaan individual siswa dan kesulitan
belajar siswa tersebut.
b.
Fungsi pemahaman
Fungsi
pemahaman yaitu memungkinkan guru, siswa dan pihak lain dapat memperoleh
pemahaman yang lebih baik terhadap pribadi siswa.10 Kepribadian siswa
sangat mempengaruhi hasil belajarnya. Oleh karena itu, guru atau pihak lain
dapat memahami kepribadian pada diri siswa atau perbedaan pada masing-masing
siswa.
c.
Fungsi penyesuaian
Fungsi
penyesuaian yaitu pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk bisa
beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Siswa dapat belajar
sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil lebih baik
lebih besar. Tuntutan disesuaikan dengan jenis, sifat, dan latar belakang
kesulitan sehingga termotivasi untuk belajar. Adapun pelaksanaan program ini
dapat dilakukan secara relevan dengan tingkat yang dimiliki siswa dikarenakan
faktor individual siswa dalam memahami suatu bidang studi. Maka fungsi
penyesuaian ini memungkinkan individual siswa dengan karakter tertentu dapat termotivasi
untuk belajar.
d.
Fungsi pengayaan
Fungsi
pengayaan yaitu dapat memperkaya proses belajar mengajar. Pengayaan dapat
melalui atau terletak dalam segi metode yang dipergunakan dalam pengajaran
remedial sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau
dengan singkat prestasi belajarnya lebih kaya. Adanya daya
dukung fasilitas teknis, serta sarana penunjang yang diperlukan. Sasaran
pokok fungsi ini ialah agar hasil remedial itu lebih sempurna dengan
diadakannya pengayaan.11 Semakin banyak hasil belajar yang diperoleh dan
semakin dalam ilmu yang didapat, maka prestasi belajarnya pun semakin
meningkat.
e.
Fungsi terapetik
Fungsi
terapetik yaitu secara langsung ataupun tidak, pengajaran perbaikan dapat
memperbaiki atau menyembuhkan kondisi kepribadian yang menyimpang. Penyembuhan
ini dapat menunjang penyampaian prestasi belajar dan pencapaian prestasi yang
baik dapat mempengaruhi pribadi.
D. Prinsip-Prinsip
Program Remedial
Beberapa prinsip yang perlu
diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai
pelayanan khusus antara lain:
1)
Adaptif
Pembelajaran
remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan daya
tangkap, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing.
2)
Interaktif
Pembelajaran
remedial hendaknya melibatkan keaktifan guru untuk secara intensif berinteraksi
dengan peserta didik dan selalu memberikan monitoring dan pengawasan agar
mengetahui kemajuan belajar peserta didiknya.
3)
Fleksibilitas dalam metode pembelajaran dan penilaian
Pembelajaran
remedial perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran dan metode penilaian
yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
4)
Pemberian umpan balik sesegera mungkin
Umpan balik
berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan
belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin agar dapat menghindari kekeliruan
belajar yang berlarut-larut.
5)
Pelayanan sepanjang waktu
Pembelajaran
remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat
peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.
E. Langkah-Langkah Program Remedial
Menurut Departemen Pendidikan Nasional
(2013, p.7-12) ada beberapa langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran
remedial, yaitu sebagai berikut:
a.
Identifikasi Permasalahan Pembelajaran
Penting
untuk memahami bahwa “tidak ada dua individu yang persis sama di dunia ini”,
begitu juga penting untuk memahami bahwa peserta didik pun memiliki beragam
variasi baik kemampuan, kepribadian, tipe dan gaya belajar maupun latar
belakang sosial-budaya. Oleh karenanya guru perlu melakukan identifikasi
terhadap keseluruhan permasalahan pembelajaran.
Secara umum
identifikasi awal bisa dilakukan melalui :
1). Observasi
(selama proses pembelajaran)
2). Penilaian otentik (bisa melalui tes/ulangan harian
atau penilaian proses) Permasalahan pembelajaran bisa dikategorikan ke dalam 3
fokus perhatian
b.
Permasalahan pada keunikan peserta didik
Keberagaman individu dapat membedakan hasil belajar dan
permasalahan belajar pada peserta didik.Ada peserta didik yang cenderung lebih
aktif dan senang praktik secara langsung, ada yang cenderung mengamati, ada
yang lebih tenang dan suka membaca. Di kelas, guru juga perlu memiliki wawasan
lebih menyeluruh mengenai latar belakang keluarga dan sosial budaya.Peserta
didik yang dibesarkan dalam keluarga pedagang, tentu memiliki keterampilan
berbeda dengan keluarga petani atau nelayan.
c.
Keadaan Peserta Didik
Peserta didik yang berasal dari keluarga yang terpecah
mungkin berbeda dengan peserta didik yang berasal dari keluarga harmonis dan
mendukung kegiatan belajar.
d. Permasalahan
pada Materi Ajar
Rancangan pembelajaran telah disiapkan dalam buku guru dan
buku siswa.Pada praktiknya, tidak semua yang disajikan dalam materi ajar,
sesuai dengan kompetensi peserta didik.Guru bisa sajamenemukan bahwa materi
ajar (KD) yang disajikan dalam buku terlalu tinggi bagi peserta didik
tertentu. Oleh karena itu perlu disiapkan berbagai alternatif contoh
aktivitas pembelajaran yang bisa digunakan guru untuk mengatasai permasalahan
pembelajaran ini. (contoh dan alternatif aktivitas untuk siswa yang merasa
kesulitan terhadap materi ajar, bisa dilihat dalam buku “Panduan Teknis
Penggunaan Buku Guru dan Siswa)
e. Permasalahan
pada Strategi Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, guru sebaiknya tidak hanya
terpaku pada satu strategi atau metode pembelajaran saja. Dikarenakan
tipe dan gaya belajar peserta didik sangat bervariasi termasuk juga minat dan
bakatnya, maka guru perlu mengidentifikasi apakah kesulitan peserta didik dalam
menguasai materi disebabkan oleh strategi atau metode belajar yang kurang
sesuai.
3) Perencanaan
Setelah melakukan identifikasi awal
terhadap permasalahan belajar anak, guru telah memperoleh pengetahuan yang utuh
tentang peserta didik dan mulai untuk membuat perencanaan.
Dengan melihat bentuk kebutuhan dan
tingkat kesulitan yang dialami peserta didik, guru bisa merencanakan kapan
waktu dan cara yang tepat untuk melakukan pembelajaran remedial. Pada
prinsipnya pembelajaran bisa dilakukan :
a.
Segera setelah guru mengidentifikasi kesulitan peserta
didik dalam proses pembelajaran
b.
Menetapkan waktu khusus di luar jam belajar efektif.
Dalam perencanaaan guru perlu menyiapkan hal-hal yang
mungkin diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial, seperti :
a. Menyiapkan Media Pembelajaran
b. Menyiapkan contoh-contoh dan alternatif aktifitas
c. Menyiapkan materi-materi dan alat pendukung
4) Pelaksanaan
Setelah perencanaan disusun, langkah
selanjutnya adalah melaksanakan program pembelajaran remedial. Ada 3
fokus penekanan :
1.
Penekanan pada keunikan peserta didik
2. Penekanan pada
alternative contoh dan aktivitas terkait materi ajar
3. Penekanan
pada strategi/metode pembelajaran
5) Penilaian
Otentik
Penilaian otentik dilakukan setelah
pemebalajaran remedial selesai dilaksanakan. Berdasarkan hasil penilaian, bila
peserta didik belum mencapai kompetensi minimal (tujuan) yang ditetapkan guru,
maka guru perlu meninjau kembali strategi pembelajaran remedial yang
diterapkannya atau melakukan identifikasi (analisa kebutuhan) terhadap peserta
didik dengan lebih seksama. Apabila peserta didik berhasil mencapai atau
melampaui tujuan yang ditetapkan, guru berhasil memberikan pembelajaran yang
kaya dan bermakna bagi peserta didik, hal ini bisa dipertahankan sebagai bahan
rujukan bagi rekan guru lainnya atau bisa lebih diperkaya lagi. Apabila
ternyata ditemukan kasus khusus di luar kompetensi guru, guru dapat
menkonsultasikan dengan orang tua untuk selanjutnya dilakukan konsultasi dengan
ahli.
F. Teknik
Program Remedial
Teknik pembelajaran remedial bisa
diberikan secara individual maupun secara berkelompok (bila terdapat beberapa
peserta didik yang mengalami kesulitan pada KD yang sama). Beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial
yaitu : pembelajaran individual, pemberian tugas, diskusi, tanya jawab, kerja
kelompok, dan tutor sebaya. Aktivitas guru dalam pembelajaran remedial, antara
lain : memberikan tambahan penjelasan atau contoh, menggunakan strategi
pembelajaran yang berbeda dengan sebelumnya, mengkaji ulang pembelajaran yang
lalu, menggunakan berbagai jenis media.Setelah peserta didik mendapatkan
perbaikan pembelajaran,ia perlu menempuh penilaian, untuk mengetahui apakah
peserta didik sudah menguasai kompetensi dasar yang diharapkan (Departemen
Pendidikan Nasional. 2013, p.7-12)
G. Pelaksanaan
Program Remedial
Menurut Tim Direktorat Pembinaan SMP
(2017, p.30) Pelaksanaan pembelajaran remedial disesuaikan dengan jenis dan
tingkat kesulitan peserta didik yang dapat dilakukan dengan cara:
1.
Pemberian bimbingan secara individu. Hal ini dilakukan
apabila ada beberapa anak yang mengalami kesulitan yang berbedabeda, sehingga
memerlukan bimbingan secara individual. Bimbingan yang diberikan disesuaikan
dengan tingkat kesulitan yang dialami oleh peserta didik.
2.
Pemberian bimbingan secara kelompok. Hal ini dilakukan
apabila dalam pembelajaran klasikal ada beberapa peserta didik yang mengalami
kesulitan sama.
3.
Pemberian pembelajaram ulang dengan metode dan media
yang berbeda. pembelajaran ulang dilakukan apabila semua peserta didik
mengalami kesulitan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian,
pemberian tes atau pertanyaan yang menarik secara lisan maupun tulisan.
4.
Pemanfaatan utor sebaya, yaitu peserta didik dibantu
oleh teman sekelas yang telah mencapai KKM, baik secara individu maupun
kelompok.
Pembelajaran remedial diakhiri dengan
penilaian untuk melihat pencapaian peserta didik pada KD yang diremedial.
Pembelajaran remedial pada dasarnya difokuskan pada KD yang belum tuntas dan
dapat diberikan berulangulang sam pai mencapai KKM dengan waktu hingga batas
akhir semester. Apabila hingga akhir semester pembelajaran remedial belum bisa
membantu peserta didik mencapai KKM, pembelajaran remedial bagi peserta didik
tersebut dapat dihentikan. Pen didik tidak boleh memaksakan untuk memberi nilai
tuntas (sesuai KKM) kepada peserta didik yang belum mencapai KKM.
Pemberian nilai KD bagi peserta didik
yang mengikuti pembelajaran remedial yang dimasukkan sebagai hasil penilaian
harian (PH), dapat dipilih beberapa alternatif berikut.
a) Alternatif 1
Peserta didik diberi nilai sesuai
capaian yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti remedial. Misalkan,
suatu matapelajaran (IPA) memiliki KKM sebesar 64. Seorang peserta didik, Andi
memperoleh nilai PH1 (KD 3.1) sebesar50. Karena Andi belum mencapai KKM, maka
Andi mengikuti remedial untuk KD 3.1. Setelah Andi mengikuti remedial dan
diakhiri dengan penilaian, Andi memperoleh hasil penilaian sebesar 80.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka nilai PH1 (KD 3.1) yang diperoleh Andi
adalah sebesar 80.
Keuntungan menggunakan ketentuan ini:
1.
Meningkatkan motivasi peserta didik selama mengikuti
pembelajaran re-medial karena peserta didik mempunyai kesempatan untuk
memperoleh nilai yang maksimal.
2.
Ketentuan tersebut sesuai dengan prinsip belajar
tuntas (mastery learning).
Kelemahan menggunakan ketentuan ini:
Peserta didik yang telah tuntas
(misalnya, Wati dengan nilai 75) dan nilainya dilampaui oleh peserta didik yang
mengikuti remedial (misalnya, Andi dengan nilai 80), kemungkinan Wati mempunyai
perasaan diperlakukan “tidak adil” oleh pendidik. Oleh karena itu, pendidik
disarankan memberikan kesempatan yang sama pada peserta didik yang telah
mencapai KKM untuk memperoleh nilai yang maksimal.
b) Alternatif 2
Peserta didik diberi nilai dengan cara
meratarata antara nilai capaian awal (sebelum mengikuti remedial) dan capaian
akhir (setelah mengikuti remedial), dengan ketentuan, apabila nilai ratarata
lebih dari KKM, maka nilai akhirnya adalah nilai ratarata tersebut; sedangkan
jika nilai ratarata kurang dari KKM, maka nilai akhirnya adalah sebesar nilai
KKM.
Contoh:
1.
Badar memperoleh nilai awal 60. Nilai KKM 64. Setelah
remedial Badar memperoleh nilai 90. Ratarata nilai awal dan remedial sebesar
75 (melebihi KKM), maka Badar memperoleh nilai akhir 75.
2.
Badar memperoleh nilai awal 50. Nilai KKM 64. Setelah
remedial Badar memperoleh nilai 70. Ratarata nilai awal dan remedial sebesar
60 (di bawah KKM), maka Badar memperoleh nilai akhir sebesar KKM yaitu 64.
Alternatif 2 ini sebagai upaya untuk
mengatasi kelemahan Alternatif 1, meskipun Alternatif 2 ini tidak memiliki
dasar teori, namun lebih mengedepankan faktor kebijakan pendidik. Upaya lain,
untuk mengatasi kelemahan Alternatif 1, yaitu dengan memberikan kesempatan yang
sama bagi semua peserta didik untuk mengikuti tes, namun dengan catatan perlu
diinformasikan kepada peserta didik bahwa konsekuensi nilai yang akan diambil
adalah nilai hasil tes tersebut atau nilai terakhir.
DAFTAR
PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional.
2015. Panduan Penilaian Oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan untuk
Sekolah Menengah Pertama.Jakarta:Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional.
2013. Panduan Teknik Pembelajaran Remedial dan Pengayaan di Sekolah
Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Direktorat Pembinaan
Sekolah Dasar.
Masbur, 2012. Remedial
Teaching Sebagai Suatu Solusi: Suatu Analisis Teoritis. Jurnal Ilmiah
Didaktika. Vol. XII (No. 2), 348-367
Nurma, Izzati. 2015. Pengaruh Penerapan Program Remedial Dan Pengayaan Melalui Pembelajaran
Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Eduma Vol.4 No.1.
Terimakasih artikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusSama2
Hapusbagus kak
BalasHapusTerima kasih dik
HapusTulisan ini sangat bermanfaat sekali,dan saya mau bertanya apakah kegiatan remedial itu penting dilakukan?tolong jelaskan.
BalasHapusMenurut ana penting, karena kegiatan remedial ini akan membantu siswa yang terganggu dalam pembelajaran, dan akan menumbuhkan motivasi siswa dalam pembelajaran.
Hapusartikelnya sngat mudah di pahami
BalasHapusTerimakasih kak artikelnya sangat membantu
BalasHapusSama2
HapusGod..
BalasHapusTerima kasih
HapusArtikelnya sangat bagus
BalasHapusDan tulisannya sangat mudah di mengerti
Terima kasih
HapusArtikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusArtikelnya bagus
BalasHapusSyukron
Hapus