MAKALAH
STRATEGI
PEMBELAJARAN DI SD
“ Keterampilan Dasar Mengajar “
DISUSUN OLEH :
Nama : Monita Utami
Bp : 1820180
Kelas : PGSD 44
DOSEN PEMBIMBING
Yessi Rifmasari, M. Pd.
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2020
A. Definisi Keterampilan Dasar Mengajar
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, keterampilan merupakan kecakapan untuk menyelesaikan
tugas.
Sedangkan mengajar adalah melatih. DeQueliy dan Gazali mendefinisikan mengajar adalah
menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat.
Definisi yang modern di Negara-negara yang sudah maju bahwa “teaching is the
guidance of learning”, mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses
belajar.
Alvin W.Howard
berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong,
membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill,
attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge.
Jadi dapat
disimpulkan keterampilan dasar mengajar (teaching skills) adalah
kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific
instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur
atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien
dan profesional. Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan
beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai
oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya.
Dalam mengajar
ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga pengajar,
yaitu:
1. Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what
to teach).
2. Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya(
how to teach).
Keterampilan dasar mengajar termasuk
kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar
mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan
keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar.
Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut
aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan
dan nilai-nilai.
B. Macam-Macam
Ketrampilan Dasar Mengajar
Menurut Turney
terdapat 8 keterampilan mengajar/membelajarkan yang sangat berperan dan
menentukan kualitas pembelajaran, diantaranya:
1. Keterampilan
Bertanya
Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi,
termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil
pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam
pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas.
Melalui keterampilan bertanya guru mampu mendeteksi hambatan proses
berpikir di kalangan siswa dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan
proses belajar di kalangan siswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan
pengelolaan kelas dan sekaligus pengelolaan instruksional menjadi lebih
efektif. Selanjutnya dengan kemampuan mendengarkan guna dapat menarik simpati
dan empati di kalangan siswa sehingga kepercayaan siswa terhadap guru meningkat
yang pada akhirnya kualitas proses pembelajaran dapat lebih di tingkatkan.
a. Macam-macam
Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya dibedakan menjadi 2 yaitu:
1) Keterampilan bertanya dasar :
mempunyai beberapa komponen yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis
pertanyaan. Keterampilan bertanya dasar
terdiri atas 7 komponen. Ketujuh komponen-komponen itu ialah sebagai berikut:
a) Pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat. Hal ini
bertujuan agar pertanyaan yang diberikan guru mudah dipahami oleh siswa.
b) Pemberian acuan, acuan dapat diberikan pada awal
pertanyaan maupun sewaktu-waktu saat guru akan memberikan pertanyaan. Acuan
tersebut berupa informasi yang perlu diketahui siswa. Hal ini bertujuan sebagai
pedoman bagi siswa dalam menjawab pertanyaan.
c) Pemusatan, yaitu memfokuskan perhatian siswa agar
terpusat pada inti masalah tertentu sesuai dengan pertanyaan.
d) Pemindahan giliran, siswa pertama memberikan jawaban,
kemudian guru meminta siswa kedua melengkapi jawaban siswa pertama, lalu siswa
ketiga dan seterusnya. Hal ini dapat mendorong siswa untuk selalu memperhatikan
jawaban yang diberikan temannya serta meningkatkan interaksi antarsiswa.
e) Penyebaran, berarti menyebarkan giliran untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan guru. Guru menunjukkan pertanyaan kepada seluruh siswa
kemudian menyebarkan pertanyaan secara acak sehingga semua siswa siap untuk
mendapat giliran.
f) Pemberian waktu berpikir, guru mengajukan pertanyaan
kemudian menunggu beberapa saat untuk siswa berpikir bar kemudian meminta atau
menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan.
g) Pemberian tuntunan, agar siswa yang tidak bisa
menjawab atau siswa yang bisa menjawab namun tidak sesuai dengan apa yang
diharapkan setelah memperoleh tuntunan dari guru siswa tersebut akan mampu
memberikan jawaban yang diharapkan.
2) Ketrampilan bertanya lanjut :
lanjutan dari bertanya dasar yang mengutamakan usaha pengembangan kemampuan
berfikir siswa. Komponen
keterampilan bertanya lanjut terdiri dari:
a) Pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab
pertanyaan, guru diharapkan memberikan pertanyaan yang bersifat pemahaman,
aplikasi (penerapan), alalisis dan sintesis, evaluasi, dan kreasi. Pertanyaan
yang bersifat ingatan hendaknya dibatasi sesuai dengan sifat materi dan
karakteristik siswa.
b) Pengaturan urutan pertanyaan, agar kemampuan berpikir
siswa dapat berkembang secara baik dan wajar. Pertanyaan pada tingkat tertentu
hendaknya dimantapkan, kemudian beralih ke tingkat pertanyaan yang lebih
tinggi. Hal itu dikarenakan agar tidak membingungkan siswa dan tidak menghambat
perkembangan kemampuan berpikir siswa.
c) Penggunaan pertanyaan pelacak, hal ini bertujuan agar
guru dapat membimbing siswa untuk mengembangkan jawabannya.
d) Peningkatan terjadinya interaksi, merupakan salah satu
usaha untuk meningkatkan keterlibatan mental intelektual siswa secara maksimal.
b. Tujuan-tujuan dalam memberikan
pertanyaan
1)
Membangkitkan
minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan.
2)
Memusatkan
perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep.
3)
Mendiagnosis
kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar.
4)
Mengembangkan
cara belajar siswa aktif.
5)
Memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi.
6)
Mendorong
siswa mengemukakannya dalam bidang diskusi.
7)
Menguji dan
mengukur hasil belajar siswa.
8)
Untuk
mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar.
c. Prinsip
Penggunaan Keterampilan Bertanya
Dalam menerapkan keterampilan
bertanya, guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan atau hal-hal
yang mempengaruhi keefektifan pertanyaan sebagai berikut:
1) Kehangatan dan keantusiasan
Pertanyaan hendaknya diajukan dengan penuh
keantusiasan dan kehangatan karena hal ini akan mempengaruhi kesungguhan siswa
dalam menjawab pertanyaan.
2) Menghindari kebiasaan-kebiasaan berikut:
a. Mengulangi pertanyaan sendiri
b. Mengulangi pertanyaan sendiri akan membuat siswa tidak
memperhatikan pertanyaan pertama sehingga menurunkan perhatian dan partisipasi
siswa.
c. Mengulangi jawaban siswa
d. Mengulangi jawaban siswa yang bertujuan untuk
memberikan penguatan sangat baik dilakukan oleh guru. Namun, jika guru terbiasa
mengulangi jawaban siswa maka siswa lain tidak akan mendengarkan jawaban
temannya karena jawabannya akan diulangi oleh guru.
e. Menjawab pertanyaan sendiri
f. Guru cenderung menjawab sendiri pertanyaannya kalau
siswa tidak ada yang memberikan jawaban. Kebiasaan ini tidak baik karena dapat
membuat siswa frustasi dan malas berpikir
g. Mengajukan pertanyaan yang memancing jawaban serentak
h. Sebagai satu selingan, guru kadang-kadang mengajukan
pertanyaan yang memancing jawaban serentak sehingga kelas menjadi hidup. Namun,
kalau hal ini dibiasakan maka akan menurunkan fungsi pertanyaan karena guru
tidak tahu siapa yang menjawab dan siswa malas berpikir karena guru tidak
meminta jawaban perorangan. Untuk menghindari kebiasaan ini, guru hendaknya
menyusun pertanyaan secara baik dengan tingkat kesukaran yang sesuai sehingga siswa
tidak mungkin menjawabnya secara serentak.
i. Mengajukan pertanyaan ganda
j. Pertanyaan yang diberikan oleh guru secara ganda dapat
menyebabkan siswa menjadi frustasi karena banyaknya pertanyaan dan
pertanyaan-pertanyaan itu dijadikan menjadi satu pertanyaan. Guru hendaknya
memecah pertanyaan menjadi beberapa pertanyaan sehingga siswa yang kurang mampu
berpikir dapat memikirkan jawaban dengan tenang dan tidak menjadi frustasi.
k. Menentukan siswa yang akan menjawab pertanyaan
l. Guru kadang-kadang cenderung menunjuk siswa tertentu
untuk menjawab pertanyaan yang akan diajukannya. Hal ini sebaiknya dihindari
karena dapat membuat siswa lain tidak memperhatikan pertanyaan guru. Sebaiknya
guru mengajukan pertanyakan ke seluruh siswa, menunggu sejenak, kemudian baru
menunjuk siswa tertentu untuk menjawabnya.
3) Memberikan waktu berpikir
Pada pertanyaan
tingkat lanjut, waktu berpikir yang dberikan hendaknya lebih lama dari waktu
berpikir yang diberikan ketika menerapkan keterampilan bertanya dasar. Hal ini
sangat perlu diperhatikan karena siswa memerlukan waktu yang cukup untuk
berpikir dan menyusun jawabannya.
4) Mempersiapkan
pertanyaan pokok yang akan diajukan
Pertanyaan-pertanyaan
pokok yang akan diajukan oleh guru hendaknya disiapkan secara cermat sehingga
urutan tingkat kesukaran pertanyaan dapat disusun lebih dahulu dan materi
pelajaran dapat dicakup secara tuntas.
5) Menilai
pertanyaan yang telah diajukan
Pertanyaan-pertanyaan
pokok hendaknya dinilai oleh guru setelah pelajaran berlangsung sehingga
ketepatan jumlah pertanyaan, tingkat kesukaran, kualitas pertanyaan dalam
mengembangkan kemampuan berpikir, dan cakupan materinya dapat diketahui dengan
jelas.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip
penggunaan keterampilan bertanya tersebut, diharap guru akan mampu
mengembangkan kemampuan berpikir siswa serta meningkatkan keterlibatan mental
intelektual siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.
2. Ketrampilan Memberikan Penguatan
Penguatan (reinforcement)
adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang
merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa,
yang bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si
penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga
merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan
kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
a. Tujuan Pemberian Penguatan
Penguatan mempunyai pengaruh yang
berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai
berikut:
a. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b. Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
c. Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku
siswa yang produktif.
b. Jenis-jenis Penguatan
1) Penguatan verbal
Penguatan
verbal biasanya diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan,
persetujuan dan sebagainya.
2) Penguatan nonverbal
3) Penguatan nonverbal terdiri dari penguatan gerak
isyarat, penguatan pendekatan, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, penguatan
berupa simbol atau benda dan penguatan tak penuh (partial).
c. Prinsip Penggunaan Penguatan
Penggunaan penguatan secara efektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu
1) Kehangatan dan keantusiasan
2) Penguatan yang diberikan guru haruslah disertai dengan
kehangatan dan keantusiasan. Kehangatan dan keantusiasan dapat ditunjukkan dengan
berbagai cara, misalnya dengan muka/wajah berseri disertai senyuman, suara yang
riang penuh dengan perhatian atau sikap yang memberi kesan bahwa penguatan yang
diberikan memang sungguh-sungguh. Sebaliknya, penguatan yang diberikan dengan
suara lesu, sikap acuh tak acuh, wajah yang murung, tidak akan ada dampak
positif bagi siswa, bahkan hanya akan menimbulkan kesan negatif bagi siswa.
3) Kebermaknaan
4) Penguatan yang diberikan guru haruslah bermakna bagi siswa.
Artinya, siswa memang merasa terdorong untuk meningkatkan penampilannya.
5) Menghindari penggunaan respons yang negatif.
6) Respons negatif seperti kata-kata kasar, cercaan,
hinaa, hukuman atau ejekan dari guru merupakan senjata ampuh yang dapat menghancurkan
iklim kelas yang kondusif dan kepribadian siswa sendiri. Oleh karena itu, guru
hendaknya menghindari segala jenis respons negatif
tersebut.
7) Di samping ketiga prinsip di atas, dalam meberikan
penguatan, guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Sasaran penguatan
b) Sasaran penguatan yang diberikan oleh guru harus
jelas. Misalnya memberikan penguatan kepada siswa tertentu, “Maron, karanganmu
bagus sekali”.
c) Contoh penguatan kepada kelompok siswa ataupun kepada
seluruh siswa secara utuh, “Wah, Ibu bangga benar dengan kedisiplinan kelas 2
ini”.
d) Dengan demikian, setiap penguatan yang diberikan oleh
guru harus jelas sasarannya, apakah dituju kepada pribadi tertentu, kepada
kelompok kecil siswa atau kepada seluruh siswa.
e) Penguatan harus diberikan dengan segera
f) Agar dampak positif yang diharapkan tidak menurun
bahkan hilang penguatan haruslah diberikan segera setelah siswa menunjukkan
respons yang diharapkan. Dengan kata lain, tidak ada waktu tunggu antara
respons yang ditunjukkan dengan penguatan yang diberikan.
g) Variasi dalam penggunaan
h) Pemberian penguatan haruslah dilakukan dengan variasi
yang kaya sehingga dampaknya cukup tinggi bagi siswa yang menerimanya.
Penguatan verbal dengan kata-kata yang sama dan terus-menerus akan kehilangan
makna hingga tidak berarti apa-apa bagi siswa. Demikian juga penguatan
nonverbal yang dilakukan secara terus-menerus akan membosankan dan tidak
berdampak apa-apa, bahkan mungkin akan menimbulkan respon negatif, misalnya
menjadi bahan tertawaan. Oleh karena itu, guru hendaknya berusaha mencari
variasi baru dalam memberi penguatan
3. Ketrampilan
Mengadakan Variasi
Variasi adalah
keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi stimulus adalah suatu
kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang di tujukan
untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar mengajar, siswa
senantiasa menunjukkan ketekunan, serta penuh partisipasi.
a. Komponen mengadakan variasi
Variasi dalam kegiatan belajar mengajar
dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran, yang dapat di
kelompokkan ke dalam tiga kelompok atau komponen, yaitu :
1)
Variasi dalam
cara mengajar guru, meliputi : penggunaan variasi suara (teacher voice),
Pemusatan perhatian siswa (focusing), kesenyapan atau kebisuan guru (teacher
silence), mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement),
gerakan badan mimik: variasi dalam ekspresi wajah guru, dan pergantian posisi
guru dalam kelas dan gerak guru (teachers movement).
2) Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran.
Media dan alat pengajaran bila ditunjau dari indera yang digunakan dapat
digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat, dan diraba.
Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah sebagai berikut :
a)
Variasi alat
atau bahan yang dapat dilihat (visual aids). Contohnya: gambar-gambar,
diagram, grafik, papan, buletin, slide presentasi, ukiran, peta, globe dan
semua alat yang dapat dilihat oleh manusia.
b)
Variasi alat
atau bahan yang dapat didengart (auditif aids). Contohnya: rekaman suara
binatang, rekaman pidato, rekaman nyanyian, rekaman kuis atau ujian listenning,
radio, dll.
c)
Variasi alat
atau bahan yang dapat diraba (motorik), dan variasi alat atau bahan yang dapat
didengar, dilihat dan diraba (audio visual aids). Contohnya:
biji-bijian, binatang kecil yang hidup, patung, alat mainan, alat-alat
laboratorium, globe, dll.
3)
Variasi pola
interaksi dan kegiatan siswa. Pola interaksi guru dengan murid dalam kegiatan belajar
mengajar sangat beraneka ragam coraknya. Penggunaan variasi pola interaksi
dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejemuan, serta untuk
menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan.\
b. Tujuan dan Manfaat mengadakan Variasi
1)
Untuk
menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar
mengajar yang relevan.
2)
Untuk
memberikan kesempatan bagi berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki
pada siswa tentang hal-hal yang baru.
3)
Untuk memupuk
tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara
mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
4)
Guna member
kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang
disenanginya.
c. Prinsip Penggunaan mengadakan
variasi
1)
Variasi
hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan
yang hendak dicapai.
2)
Variasi harus
digunakan secara lancer dan berkesinambungan sehingga tidak akan merusak
perhatian siswa dan tidak mengganggu pelajaran.
3)
Direncanakan
secara baik, dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran atau
satuan pelajaran.
4. Ketrampilan Menjelaskan
Menjelaskan adalah penyajian
informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik yang bertujuan
untuk menunjukkan hubungan, antara sebab akibat, yang diketahui dan yang belum
diketahui.
Dari
segi etimologis, kata menjelaskan mengandung makna “membuat sesuatu menjadi
jelas”. Dalam kegiatan terkandung makna pengkajian makna secara sistematis
sehingga yang menerima penjelasan memiliki gambaran yang jelas tentang hubungan
informasi yang satu dengan informasi lainnya. Misal hubungan informasi baru
dengan lama, hubungan sebab akibat, hubungan antara teori dan praktik, atau
hubungan antara dalil-dalil dengan contoh.
a.Tujuan
keterampilan menjelaskan
Kegiatan menjelaskan mempunyai beberapa tujuan. Tujuan-tujuan tersebut
antara lain ialah:
1)
Membantu siswa
memahami berbagai konsep, hukum, dalil, dan sebagainya secara objektif dan
bernalar.
2)
Membimbing
siswa menjawab pertanyaan “mengapa” yang muncul dalam proses pembelajaran.
3)
Meningkatkan
keterlibatan siswa dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berpikir yang
lebih sistematis.
4)
Mendapatkan
balikan dari siswa tentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang dijelaskan
dan untuk mengatasi salah pengertian.
5)
Memberi
kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penalaran dalam penyelesaian
ketidakpastian.
Sementara itu, penguasaan
keterampilan menjelaskan akan memungkinkan guru untuk:
1) Meningkatkan efektivitas pembicaraan di kelas sehingga
benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa.
2) Memperkirakan tingkat pemahaman siswa terhadap
penjelasan yang diberikan.
3) Membantu siswa menggali pengetahuan dari berbagai
sumber.
4) Mengatasi kekurangan berbagai sumber belajar.
5) Menggunakan waktu secara efektif.
b. Komponen-Komponen Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan memberi penjelasan
dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu:
1) Keterampilan merencanakan penjelasan
Merencanakan isi pesan (materi)
pembelajaran, merupakan tahap awal dalam proses menjelaskan. Di dalamnya
mencakup:
a) Menganalisis masalah yang akan dijelaskan secara
keseluruhan termasuk unsur-unsur yang terkait.
b) Menetapkan jenis hubungan antara unsur-unsur yang
berkaitan tersebut.
c) Menelaah hukum, rumus, prinsip atau generalisasi yang
mungkin dapat digunakan dalam menjelaskan masalah yang ditentukan.
d) Menganalisis karakteristik penerimaan pesan, agar guru
mampu mengetahui apakah siswanya sudah paham tentang materi yang dijelaskan
atau masih belum paham.
2) Keterampilan menyajikan penjelasan
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam keterampilan menyajikan penjelasan:
a) Kejelasan ucapan dalam berbicara, sangat menentukan
kualitas suatu penjelasan.
b) Penggunaan contoh dan ilustrasi, agar penjelasan akan
lebih menarik dan mudah dipahami.
c) Pemberian tekanan, agar siswa lebih menangkap inti
permasalahan yang djelaskan.
d) Balikan, untuk memeriksa pemahaman siswa dengan cara
mengajukan pertanyaan atau ekspresi wajah siswa setelah mendengarkan penjelasan
guru.
c. Prinsip Penggunaan Keterampilan Menjelaskan
Dalam
memberikan penjelasan, guru perlu memperhatikan hal-hal seperti di bawah ini:
1) Memperhatikan kaitan antara yang menjelaskan (guru)
dengan yang mendengarkan (siswa) dan bahan yang djelaskan (materi).
2) Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, dan
akhir pelajaran, tergantung dari munculnya kebutuhan akan penjelasan.
3) Penjelasan yang diberikan harus bermakna dan sesuai
dengan tujuan pelajaran.
4) Penjelasan dapat disajikan sesuai dengan rencana guru
atau bila kebutuhan akan suatu penjelasan muncul dari siswa.
Membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan
yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan
prakondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan
dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap
kegiatan belajar. Adapun tujuan membuka pelajaran antara lain, yaitu :
1)
Menarik perhatian siswa
2)
Menumbuhkan motivasi belajar
siswa
3)
Memberikan acuan atau
rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan.
Sedangkan menutup pelajaran (closure)
ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau
kegiatan belajar mengajar. Tujuan
kegiatan menutup pelajaran yaitu untuk memberikan gambaran yang menyeluruh
mengenai hasil belajar yang telah dikuasainya. Kegiatan-kegiatan dalam menutup
pelajaran misalnya : Merangkum atau membuat garis
besar permasalahan yang dibahas, memberikan tindak lanjut, dan lain-lain.
a. Komponen
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
1) Membuka
Pelajaran
Komponen keterampilan yang dikuasai
guru dalam membuka pelajaran adalah
sebagai berikut :
a) Menarik
perhatian siswa
Menarik perhatian siswa dapat
dilakukan dengan berbagai cara antara
lain memvariasikan gaya mengajar, mengunakan alat-alat bantu mengajar, dan
penggunaan pola interaksi yang bervariasi.
b) Menimbulkan
motivasi
Salah satu tujuan membuka pelajaran
adalah membangkitkan motivasi siswa untuk mempelajari atau memasuki
topik/kegiatan yang akan di bahas atau dikerjakan,cara memberikan motivasi ada bermacam-macam cara, diantaranya ialah
sikap hangat dan antusias, menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide yang
bertentangan,dan memperhatikan minat siswa.
c) Memberi
acuan
Memberi acuan dalam usaha membuka
pelajaran bertujuan untuk memberikan gambaran
singkat kepada siswa tentang berbagai topik atau kegiatan yang akan di
pelajari siswa. Acuan dapat diberikan dengan berbagai cara seperti:
Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang
akan dilakukan, mengigatkan masalah pokok, dan mengajukan pertayaan-pertanyaan.
d) Membuat
kaitan
Salah satu aspek yang membuat
pelajaran menjadi bermakna adalah jika pelajaran tersebut dikaitkan dengan
pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Dalam hal ini guru berusaha mengaitkan
materi baru dengan pengetahuan, pengalaman, minat, serta kebutuhan siswa,
misalnya meninjau kembali pemahaman siswa tentang aspek-aspek yang telah
diketahui dari materi baru yang akan di jelaskan,memberi kaitan materi baru
dengan materi yang sudah diketahui siswa atau apabila konsep yang akan
dijelaskan terlebih dahulu.
2) Menutup
Pelajaran
Kegiatan
menutup pelajaran dilakukan pada setiap
akhir penggal kegiatan. Agar kegiatan menutup pelajaran dapat berlangsung
secara efektif,guru diharapkan menguasai cara menutup pelajaran sebagai bahan
sebagai berikut :
a) Meninjau
kembali (mereview)
Untuk
mengetahui pemahaman siswa terhadap inti pelajaran, pada akhir penggal kegiatan
guru hendaknya melakukan peninjauan kembali tentang penguasaan siswa. Hal ini
dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu merangkum dan atau membuat ringkasan inti
pelajaran.
b) Merangkum
inti pelajaran
Kegiatan
merangkum inti pelajaran pada dasarnya berlangsung selama proses pembelajaran.
Misalnya, ketika selesai menjelaskan suatu topik guru meminta siswa
merangkum topik yang telah dibahas.
c) Membuat
ringkasan
Membuat
ringkasan merupakan satu cara untuk memantapkan penguasaan siswa terhadap inti
pelajaran.
d) Menilai
(mengevaluasi)
Penggal
kegiatan atau akhir satu pelajaran dapat ditutup dengan menilai penguasaan
siswa tentang pelajaran yang telah dibahas. Penilaian dapat dilakukan dengan
cara berikut: Tanya jawab secara lisan,
mendemostrasikan ketrampilan, mengaplikasikan ide baru, menyatakan pendapat
tentang masalah yang di bahas, dan memberikan soal-soal tertulis yang dikerjakan
oleh siswa secara tertulis
e) Memberi
tindak lanjut
Agar siswa
dapat memantapkan/mengembangkan kemampuan yang baru dipelajari,guru perlu
memberikan tindak lanjut yang dapat berupa: Tugas-tugas dapat dikerjakan secar
individual, seperti pekerjaan rumah (PR) dan tugas kelompok untuk merancang
sesuatu atau memecahkan masalah berdasarkan konsep yang baru dipelajari.
6 Ketrampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi
kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam
interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi,
pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan
strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu
masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir,
berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi
kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan
berkomunikasi termasuk di dalamnya keterampilan berbahasa.
Diskusi kelompok kecil mempunyai
karakteristik sebagai berikut :
1) Melibatkan kelompok orang yang
anggotanya antara 3-9 orang (idealnya 5-9 orang).
2) Berlangsung dalam interaksi secara
bebas (tidak ada tekanan dan paksaan) dan langsung, artinya semua anggota
kelompok mendapat kesempatan untuk saling beradu pandang dan saling
mendengarkan serta saling berkomunikasi dengan yang lain.
3) Mempunyai tujuan tertentu yang akan
dicapai dengan kerjasama antar anggota kelompok.
4) Berlangsung menurut proses yang
teratur dan sistematis, menuju suatu kesimpulan.
5) Dengan memperhatikan keempat
karakteristik tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan diskusi
kelompok adalah suatu proses pembicaraan yang teratur yang melibatkan
sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan tujuan untuk
mengambil keputusan atau memecahakan suatu persoalan atau masalah.
DAFTAR RUJUKAN
Hasibuan & Moedjiono. 1993. Proses Belajar
Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Marno dan Idris. 2014. Strategi, Metode dan Teknik Mengajar (Menciptakan Keterampilan Mengaar
yang Efektif dan Edukatif). Jakarta: Ar-Ruzz Media.
Pusat Bahasa DEPDIKNAS. 2005. Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Rhezi. “Keterampilan
Dasar Mengajar” dalam http://rheziak.blogspot.co.id/2015/07/
diakses 13 September 2016 pukul 10:02
Slamet. 2010. Belajar
dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Usman, M. Uzer. 2010. Menjadi Guru Profesional. Badung: PT Remaja Rosdakarya