Jumat, 20 Maret 2020

Keterampilan Dasar Mengajar


MAKALAH

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

 “ Keterampilan Dasar Mengajar “


DISUSUN OLEH :
Nama    : Monita Utami
   Bp       : 1820180
Kelas    : PGSD 44

DOSEN PEMBIMBING
Yessi Rifmasari, M. Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020






A. Definisi Keterampilan Dasar Mengajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keterampilan merupakan kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Sedangkan mengajar adalah melatih. DeQueliy dan Gazali mendefinisikan mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat. Definisi yang modern di Negara-negara yang sudah maju bahwa “teaching is the guidance of learning”, mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar.
Alvin W.Howard berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas untuk mencoba menolong, membimbing seseorang untuk mendapatkan, mengubah atau mengembangkan skill, attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge.
Jadi dapat disimpulkan keterampilan dasar mengajar  (teaching skills) adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional. Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya.
Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga pengajar, yaitu:
1.   Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach).
2.  Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya( how to teach).
Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilai-nilai.
 B. Macam-Macam Ketrampilan Dasar Mengajar
Menurut Turney terdapat 8 keterampilan mengajar/membelajarkan yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran, diantaranya:
1.  Keterampilan Bertanya
Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas.
Melalui keterampilan bertanya guru mampu mendeteksi hambatan proses berpikir di kalangan siswa dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan proses belajar di kalangan siswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan pengelolaan kelas dan sekaligus pengelolaan instruksional menjadi lebih efektif. Selanjutnya dengan kemampuan mendengarkan guna dapat menarik simpati dan empati di kalangan siswa sehingga kepercayaan siswa terhadap guru meningkat yang pada akhirnya kualitas proses pembelajaran dapat lebih di tingkatkan.
a.  Macam-macam Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya dibedakan menjadi 2 yaitu:
1)  Keterampilan bertanya dasar : mempunyai beberapa komponen yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Keterampilan bertanya dasar terdiri atas 7 komponen. Ketujuh komponen-komponen itu ialah sebagai berikut:
a)  Pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat. Hal ini bertujuan agar pertanyaan yang diberikan guru mudah dipahami oleh siswa.
b) Pemberian acuan, acuan dapat diberikan pada awal pertanyaan maupun sewaktu-waktu saat guru akan memberikan pertanyaan. Acuan tersebut berupa informasi yang perlu diketahui siswa. Hal ini bertujuan sebagai pedoman  bagi siswa dalam menjawab pertanyaan.
c)  Pemusatan, yaitu memfokuskan perhatian siswa agar terpusat pada inti masalah tertentu sesuai dengan pertanyaan.
d)  Pemindahan giliran, siswa pertama memberikan jawaban, kemudian guru meminta siswa kedua melengkapi jawaban siswa pertama, lalu siswa ketiga dan seterusnya. Hal ini dapat mendorong siswa untuk selalu memperhatikan jawaban yang diberikan temannya serta meningkatkan interaksi antarsiswa.
e)  Penyebaran, berarti menyebarkan giliran untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Guru menunjukkan pertanyaan kepada seluruh siswa kemudian menyebarkan pertanyaan secara acak sehingga semua siswa siap untuk mendapat giliran.
f)  Pemberian waktu berpikir, guru mengajukan pertanyaan kemudian menunggu beberapa saat untuk siswa berpikir bar kemudian meminta atau menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan.
g)  Pemberian tuntunan, agar siswa yang tidak bisa menjawab atau siswa yang bisa menjawab namun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan setelah memperoleh tuntunan dari guru siswa tersebut akan mampu memberikan jawaban yang diharapkan.
2)    Ketrampilan bertanya lanjut : lanjutan dari bertanya dasar yang mengutamakan usaha pengembangan kemampuan berfikir siswa. Komponen keterampilan bertanya lanjut terdiri dari:
a)  Pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan, guru diharapkan memberikan pertanyaan yang bersifat pemahaman, aplikasi (penerapan), alalisis dan sintesis, evaluasi, dan kreasi. Pertanyaan yang bersifat ingatan hendaknya dibatasi sesuai dengan sifat materi dan karakteristik siswa.
b) Pengaturan urutan pertanyaan, agar kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara baik dan wajar. Pertanyaan pada tingkat tertentu hendaknya dimantapkan, kemudian beralih ke tingkat pertanyaan yang lebih tinggi. Hal itu dikarenakan agar tidak membingungkan siswa dan tidak menghambat perkembangan kemampuan berpikir siswa.
c)  Penggunaan pertanyaan pelacak, hal ini bertujuan agar guru dapat membimbing siswa untuk mengembangkan jawabannya.
d)  Peningkatan terjadinya interaksi, merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterlibatan mental intelektual siswa secara maksimal.
b.        Tujuan-tujuan dalam memberikan pertanyaan
1)      Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan.
2)      Memusatkan perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep.
3)      Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar.
4)      Mengembangkan cara belajar siswa aktif.
5)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi.
6)      Mendorong siswa mengemukakannya dalam bidang diskusi.
7)      Menguji dan mengukur hasil belajar siswa.
8)      Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar.
c.         Prinsip Penggunaan Keterampilan Bertanya
Dalam menerapkan keterampilan bertanya, guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan atau hal-hal yang mempengaruhi keefektifan pertanyaan sebagai berikut:
1)  Kehangatan dan keantusiasan
Pertanyaan hendaknya diajukan dengan penuh keantusiasan dan kehangatan karena hal ini akan mempengaruhi kesungguhan siswa dalam menjawab pertanyaan.
2) Menghindari kebiasaan-kebiasaan berikut:
a.   Mengulangi pertanyaan sendiri
b.  Mengulangi pertanyaan sendiri akan membuat siswa tidak memperhatikan pertanyaan pertama sehingga menurunkan perhatian dan partisipasi siswa.
c.   Mengulangi jawaban siswa
d.  Mengulangi jawaban siswa yang bertujuan untuk memberikan penguatan sangat baik dilakukan oleh guru. Namun, jika guru terbiasa mengulangi jawaban siswa maka siswa lain tidak akan mendengarkan jawaban temannya karena jawabannya akan diulangi oleh guru.
e.  Menjawab pertanyaan sendiri
f.   Guru cenderung menjawab sendiri pertanyaannya kalau siswa tidak ada yang memberikan jawaban. Kebiasaan ini tidak baik karena dapat membuat siswa frustasi dan malas berpikir
g.  Mengajukan pertanyaan yang memancing jawaban serentak
h.  Sebagai satu selingan, guru kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang memancing jawaban serentak sehingga kelas menjadi hidup. Namun, kalau hal ini dibiasakan maka akan menurunkan fungsi pertanyaan karena guru tidak tahu siapa yang menjawab dan siswa malas berpikir karena guru tidak meminta jawaban perorangan. Untuk menghindari kebiasaan ini, guru hendaknya menyusun pertanyaan secara baik dengan tingkat kesukaran yang sesuai sehingga siswa tidak mungkin menjawabnya secara serentak.
i.    Mengajukan pertanyaan ganda
j.   Pertanyaan yang diberikan oleh guru secara ganda dapat menyebabkan siswa menjadi frustasi karena banyaknya pertanyaan dan pertanyaan-pertanyaan itu dijadikan menjadi satu pertanyaan. Guru hendaknya memecah pertanyaan menjadi beberapa pertanyaan sehingga siswa yang kurang mampu berpikir dapat memikirkan jawaban dengan tenang dan tidak menjadi frustasi.
k.  Menentukan siswa yang akan menjawab pertanyaan
l.    Guru kadang-kadang cenderung menunjuk siswa tertentu untuk menjawab pertanyaan yang akan diajukannya. Hal ini sebaiknya dihindari karena dapat membuat siswa lain tidak memperhatikan pertanyaan guru. Sebaiknya guru mengajukan pertanyakan ke seluruh siswa, menunggu sejenak, kemudian baru menunjuk siswa tertentu untuk menjawabnya.
3) Memberikan waktu berpikir
Pada pertanyaan tingkat lanjut, waktu berpikir yang dberikan hendaknya lebih lama dari waktu berpikir yang diberikan ketika menerapkan keterampilan bertanya dasar. Hal ini sangat perlu diperhatikan karena siswa memerlukan waktu yang cukup untuk berpikir dan menyusun jawabannya.
4)  Mempersiapkan pertanyaan pokok yang akan diajukan
Pertanyaan-pertanyaan pokok yang akan diajukan oleh guru hendaknya disiapkan secara cermat sehingga urutan tingkat kesukaran pertanyaan dapat disusun lebih dahulu dan materi pelajaran dapat dicakup secara tuntas.
5) Menilai pertanyaan yang telah diajukan
Pertanyaan-pertanyaan pokok hendaknya dinilai oleh guru setelah pelajaran berlangsung sehingga ketepatan jumlah pertanyaan, tingkat kesukaran, kualitas pertanyaan dalam mengembangkan kemampuan berpikir, dan cakupan materinya dapat diketahui dengan jelas.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan keterampilan bertanya tersebut, diharap guru akan mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa serta meningkatkan keterlibatan mental intelektual siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.
   2. Ketrampilan Memberikan Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
a. Tujuan Pemberian Penguatan
Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut:
a.   Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b.  Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
c.   Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.
b. Jenis-jenis Penguatan
1)  Penguatan verbal
Penguatan verbal biasanya diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya.
2) Penguatan nonverbal
3) Penguatan nonverbal terdiri dari penguatan gerak isyarat, penguatan pendekatan, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda dan penguatan tak penuh (partial).
 c. Prinsip Penggunaan Penguatan
Penggunaan penguatan secara efektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu
1)  Kehangatan dan keantusiasan
2) Penguatan yang diberikan guru haruslah disertai dengan kehangatan dan keantusiasan. Kehangatan dan keantusiasan dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, misalnya dengan muka/wajah berseri disertai senyuman, suara yang riang penuh dengan perhatian atau sikap yang memberi kesan bahwa penguatan yang diberikan memang sungguh-sungguh. Sebaliknya, penguatan yang diberikan dengan suara lesu, sikap acuh tak acuh, wajah yang murung, tidak akan ada dampak positif bagi siswa, bahkan hanya akan menimbulkan kesan negatif bagi siswa.
3) Kebermaknaan
4) Penguatan yang diberikan guru haruslah bermakna bagi siswa. Artinya, siswa memang merasa terdorong untuk meningkatkan penampilannya.
5) Menghindari penggunaan respons yang negatif.
6) Respons negatif seperti kata-kata kasar, cercaan, hinaa, hukuman atau ejekan dari guru merupakan senjata ampuh yang dapat menghancurkan iklim kelas yang kondusif dan kepribadian siswa sendiri. Oleh karena itu, guru hendaknya menghindari segala jenis respons negatif tersebut.         
7) Di samping ketiga prinsip di atas, dalam meberikan penguatan, guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)     Sasaran penguatan
b)    Sasaran penguatan yang diberikan oleh guru harus jelas. Misalnya memberikan penguatan kepada siswa tertentu, “Maron, karanganmu bagus sekali”.
c)     Contoh penguatan kepada kelompok siswa ataupun kepada seluruh siswa secara utuh, “Wah, Ibu bangga benar dengan kedisiplinan kelas 2 ini”.
d)     Dengan demikian, setiap penguatan yang diberikan oleh guru harus jelas sasarannya, apakah dituju kepada pribadi tertentu, kepada kelompok kecil siswa atau kepada seluruh siswa.
e)     Penguatan harus diberikan dengan segera
f)     Agar dampak positif yang diharapkan tidak menurun bahkan hilang penguatan haruslah diberikan segera setelah siswa menunjukkan respons yang diharapkan. Dengan kata lain, tidak ada waktu tunggu antara respons yang ditunjukkan dengan penguatan yang diberikan.
g)     Variasi dalam penggunaan
h)     Pemberian penguatan haruslah dilakukan dengan variasi yang kaya sehingga dampaknya cukup tinggi bagi siswa yang menerimanya. Penguatan verbal dengan kata-kata yang sama dan terus-menerus akan kehilangan makna hingga tidak berarti apa-apa bagi siswa. Demikian juga penguatan nonverbal yang dilakukan secara terus-menerus akan membosankan dan tidak berdampak apa-apa, bahkan mungkin akan menimbulkan respon negatif, misalnya menjadi bahan tertawaan. Oleh karena itu, guru hendaknya berusaha mencari variasi baru dalam memberi penguatan
3. Ketrampilan Mengadakan Variasi
Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang di tujukan untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, serta penuh partisipasi.
a. Komponen mengadakan variasi
Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran, yang dapat di kelompokkan ke dalam tiga kelompok atau komponen, yaitu :
1)    Variasi dalam cara mengajar guru, meliputi : penggunaan variasi suara (teacher voice), Pemusatan perhatian siswa (focusing), kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence), mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement), gerakan badan mimik: variasi dalam ekspresi wajah guru, dan pergantian posisi guru dalam kelas dan gerak guru (teachers movement).
2)   Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran. Media dan alat pengajaran bila ditunjau dari indera yang digunakan dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat, dan diraba. Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah sebagai berikut :
a)        Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids). Contohnya: gambar-gambar, diagram, grafik, papan, buletin, slide presentasi, ukiran, peta, globe dan semua alat yang dapat dilihat oleh manusia.
b)        Variasi alat atau bahan yang dapat didengart (auditif aids). Contohnya: rekaman suara binatang, rekaman pidato, rekaman nyanyian, rekaman kuis atau ujian listenning, radio, dll.
c)        Variasi alat atau bahan yang dapat diraba (motorik), dan variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat dan diraba (audio visual aids). Contohnya: biji-bijian, binatang kecil yang hidup, patung, alat mainan, alat-alat laboratorium, globe, dll.
3)   Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa. Pola interaksi guru dengan murid dalam kegiatan belajar mengajar sangat beraneka ragam coraknya. Penggunaan variasi pola interaksi dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejemuan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan.\

   b. Tujuan dan Manfaat mengadakan Variasi
1)     Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar mengajar yang relevan.
2)    Untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki pada siswa tentang hal-hal yang baru.
3)    Untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
4)    Guna member kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.
         c. Prinsip Penggunaan mengadakan variasi
1)     Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai.
2)    Variasi harus digunakan secara lancer dan berkesinambungan sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu pelajaran.
3)    Direncanakan secara baik, dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran atau satuan pelajaran.
        4. Ketrampilan Menjelaskan
        Menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik yang bertujuan untuk menunjukkan hubungan, antara sebab akibat, yang diketahui dan yang belum diketahui.
            Dari segi etimologis, kata menjelaskan mengandung makna “membuat sesuatu menjadi jelas”. Dalam kegiatan terkandung makna pengkajian makna secara sistematis sehingga yang menerima penjelasan memiliki gambaran yang jelas tentang hubungan informasi yang satu dengan informasi lainnya. Misal hubungan informasi baru dengan lama, hubungan sebab akibat, hubungan antara teori dan praktik, atau hubungan antara dalil-dalil dengan contoh.
            a.Tujuan keterampilan menjelaskan
Kegiatan menjelaskan mempunyai beberapa tujuan. Tujuan-tujuan tersebut antara lain ialah:
1)      Membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, dalil, dan sebagainya secara objektif dan bernalar.
2)     Membimbing siswa menjawab pertanyaan “mengapa” yang muncul dalam proses pembelajaran.
3)     Meningkatkan keterlibatan siswa dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berpikir yang lebih sistematis.
4)     Mendapatkan balikan dari siswa tentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang dijelaskan dan untuk mengatasi salah pengertian.
5)     Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penalaran dalam penyelesaian ketidakpastian.
Sementara itu, penguasaan keterampilan menjelaskan akan memungkinkan guru untuk:
1)     Meningkatkan efektivitas pembicaraan di kelas sehingga benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa.
2)    Memperkirakan tingkat pemahaman siswa terhadap penjelasan yang diberikan.
3)    Membantu siswa menggali pengetahuan dari berbagai sumber.
4)    Mengatasi kekurangan berbagai sumber belajar.
5)    Menggunakan waktu secara efektif.
b.  Komponen-Komponen Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan memberi penjelasan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu:
1)  Keterampilan merencanakan penjelasan
Merencanakan isi pesan (materi) pembelajaran, merupakan tahap awal dalam proses menjelaskan. Di dalamnya mencakup:
a)      Menganalisis masalah yang akan dijelaskan secara keseluruhan termasuk unsur-unsur yang terkait.
b)      Menetapkan jenis hubungan antara unsur-unsur yang berkaitan tersebut.
c)      Menelaah hukum, rumus, prinsip atau generalisasi yang mungkin dapat digunakan dalam menjelaskan masalah yang ditentukan.
d)      Menganalisis karakteristik penerimaan pesan, agar guru mampu mengetahui apakah siswanya sudah paham tentang materi yang dijelaskan atau masih belum paham.
              2)  Keterampilan menyajikan penjelasan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam keterampilan menyajikan penjelasan:
a)  Kejelasan ucapan dalam berbicara, sangat menentukan kualitas suatu penjelasan.
b) Penggunaan contoh dan ilustrasi, agar penjelasan akan lebih menarik dan mudah dipahami.
c)  Pemberian tekanan, agar siswa lebih menangkap inti permasalahan yang djelaskan.
d)  Balikan, untuk memeriksa pemahaman siswa dengan cara mengajukan pertanyaan atau ekspresi wajah siswa setelah mendengarkan penjelasan guru.
c.  Prinsip Penggunaan Keterampilan Menjelaskan
Dalam memberikan penjelasan, guru perlu memperhatikan hal-hal    seperti di bawah ini:
1)      Memperhatikan kaitan antara yang menjelaskan (guru) dengan yang mendengarkan (siswa) dan bahan yang djelaskan (materi).
2)     Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, dan akhir pelajaran, tergantung dari munculnya kebutuhan akan penjelasan.
3)     Penjelasan yang diberikan harus bermakna dan sesuai dengan tujuan pelajaran.
4)     Penjelasan dapat disajikan sesuai dengan rencana guru atau bila kebutuhan akan suatu penjelasan muncul dari siswa.

5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran[4][4]
Membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prakondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Adapun tujuan membuka pelajaran antara lain, yaitu :
1)          Menarik perhatian siswa
2)         Menumbuhkan motivasi belajar siswa
3)         Memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan.
Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar.  Tujuan kegiatan menutup pelajaran yaitu untuk memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai hasil belajar yang telah dikuasainya. Kegiatan-kegiatan dalam menutup pelajaran misalnya : Merangkum atau membuat garis besar permasalahan yang dibahas, memberikan tindak lanjut, dan lain-lain.
a.  Komponen Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
1) Membuka Pelajaran
Komponen keterampilan yang dikuasai guru dalam membuka pelajaran  adalah sebagai berikut :
a)   Menarik perhatian siswa
Menarik perhatian siswa dapat dilakukan  dengan berbagai cara antara lain memvariasikan gaya mengajar, mengunakan alat-alat bantu mengajar, dan penggunaan pola interaksi yang bervariasi.
b)   Menimbulkan motivasi
Salah satu tujuan membuka pelajaran adalah membangkitkan motivasi siswa untuk mempelajari atau memasuki topik/kegiatan yang akan di bahas atau dikerjakan,cara memberikan motivasi  ada bermacam-macam cara, diantaranya ialah sikap hangat dan antusias, menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide yang bertentangan,dan memperhatikan minat siswa.
c)   Memberi acuan
Memberi acuan dalam usaha membuka pelajaran bertujuan untuk memberikan gambaran  singkat kepada siswa tentang berbagai topik atau kegiatan yang akan di pelajari siswa. Acuan dapat diberikan dengan berbagai cara seperti: Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan, mengigatkan masalah pokok, dan mengajukan pertayaan-pertanyaan.
d)  Membuat kaitan
Salah satu aspek yang membuat pelajaran menjadi bermakna adalah jika pelajaran tersebut dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Dalam hal ini guru berusaha mengaitkan materi baru dengan pengetahuan, pengalaman, minat, serta kebutuhan siswa, misalnya meninjau kembali pemahaman siswa tentang aspek-aspek yang telah diketahui dari materi baru yang akan di jelaskan,memberi kaitan materi baru dengan materi yang sudah diketahui siswa atau apabila konsep yang akan dijelaskan  terlebih dahulu.
2) Menutup Pelajaran
Kegiatan menutup pelajaran dilakukan  pada setiap akhir penggal kegiatan. Agar kegiatan menutup pelajaran dapat berlangsung secara efektif,guru diharapkan menguasai cara menutup pelajaran sebagai bahan sebagai berikut :
a)   Meninjau kembali (mereview)
Untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap inti pelajaran, pada akhir penggal kegiatan guru hendaknya melakukan peninjauan kembali tentang penguasaan siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu merangkum dan atau membuat ringkasan inti pelajaran.
b)   Merangkum inti pelajaran
Kegiatan merangkum inti pelajaran pada dasarnya berlangsung selama proses pembelajaran. Misalnya, ketika selesai menjelaskan suatu topik guru meminta siswa merangkum  topik yang telah dibahas.
c)   Membuat ringkasan
Membuat ringkasan merupakan satu cara untuk memantapkan penguasaan siswa terhadap inti pelajaran.
d)  Menilai (mengevaluasi)
Penggal kegiatan atau akhir satu pelajaran dapat ditutup dengan menilai penguasaan siswa tentang pelajaran yang telah dibahas. Penilaian dapat dilakukan dengan cara  berikut: Tanya jawab secara lisan, mendemostrasikan ketrampilan, mengaplikasikan ide baru, menyatakan pendapat tentang masalah yang di bahas, dan memberikan soal-soal tertulis yang dikerjakan oleh siswa secara tertulis
e)   Memberi tindak lanjut
Agar siswa dapat memantapkan/mengembangkan kemampuan yang baru dipelajari,guru perlu memberikan tindak lanjut yang dapat berupa: Tugas-tugas dapat dikerjakan secar individual, seperti pekerjaan rumah (PR) dan tugas kelompok untuk merancang sesuatu atau memecahkan masalah berdasarkan konsep yang baru dipelajari.
6 Ketrampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya keterampilan berbahasa.
Diskusi kelompok kecil mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1)      Melibatkan kelompok orang yang anggotanya antara 3-9 orang (idealnya 5-9 orang).
2)     Berlangsung dalam interaksi secara bebas (tidak ada tekanan dan paksaan) dan langsung, artinya semua anggota kelompok mendapat kesempatan untuk saling beradu pandang dan saling mendengarkan serta saling berkomunikasi dengan yang lain.
3)     Mempunyai tujuan tertentu yang akan dicapai dengan kerjasama antar anggota kelompok.
4)     Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis, menuju suatu kesimpulan.
5)     Dengan memperhatikan keempat karakteristik tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan diskusi kelompok adalah suatu proses pembicaraan yang teratur  yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan tujuan untuk mengambil keputusan atau memecahakan suatu persoalan atau masalah.




DAFTAR RUJUKAN
Hasibuan & Moedjiono. 1993. Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Marno dan Idris. 2014. Strategi, Metode dan Teknik Mengajar (Menciptakan Keterampilan Mengaar yang Efektif dan Edukatif). Jakarta: Ar-Ruzz Media.

Pusat Bahasa DEPDIKNAS. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Rhezi. “Keterampilan Dasar Mengajar” dalam http://rheziak.blogspot.co.id/2015/07/ diakses 13 September 2016 pukul 10:02

Slamet. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Usman, M. Uzer. 2010. Menjadi Guru Profesional. Badung: PT Remaja Rosdakarya