TUGAS
STRATEGI
PEMBELAJARAN DI SD
"
Model-Model Belajar dan Rumpun Model Belajar "
Disusun
Oleh:
Monita
Utami
(1820180)
PGSD
44
Dosen
Pembimbing:
Yessi
Rifmasari, M. Pd.
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020
A. Pengertian Model Pembelajaran Lansung
Model pembelajaran langsung ( Direct Instruction ) adalah model pembelajaran yang
menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan
mengutamakan pendekatan deduktif. Dalam hal ini guru berperan sebagai penyampai
informasi, dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang
sesuai, misalnya film, tape recorder,
gambar, peragaan, dan sebaganya. Informasi yang disampaikan dapat berupa
pengetahuan prosedural (yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan
sesuatu) atau pengetahuan deklaratif, (yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat
berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi).
Pengertian Model Pembelajaran
Menurut Para Ahli, yaitu sebagai berikut:
1.
Menurut Sumargo
(2014:2) model pembelajaran langsung
adalah suatu model pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa dalam
mempelajari materi pelajaran yang dilakukan secara langkah demi langkah.
Didalam pembelajaran secara langsung guru harus menganalisis struktur materi ke
dalam langkah demi langkah sebelum menerangkan atau mendemonstrasikan materi
tersebut kepada siswa agar siswa paham.
2.
Menurut Qurnain
(2013:7) model pembelajaran langsung adalah sebuah pendekatan yang mengajarkan
keterampilan-keterampilan dasar dimana pelajaran sangat berorientasi pada
tujuan dan lingkungan pembelajaran yang terstruktur secara ketat. Di dalam
model pembelajaran langsung terdapat dua tujuan utama siswa yaitu penuntasan
konten akademik yang terstruktur dengan baik danperolehan seluruh jenis
keterampilan.
Berdasarkan beberapa
pendapat di atas dapat disimpulkan Model pengajaran langsung ini
dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan
pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik,
yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi
selangkah.
B. Langkah-Langkah
Model Pembelajaran Langsung
Menurut
Sri
Handayani (2019:3) Langkah-langkah model
pembelajaran lansung yaitu:
1.
Menyampaikan tujuan dan
mempersiapkan siswa
2. Mendemonstrasikan pengetahuan atau Keterampilan
3. Membimbing pelatihan
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
5. Memberikan
kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.
Langkah – langkah
pembelajaran model pembelajaran langsung
(Direct Instruction) pada dasarnya mengikuti pola-
pola pembelajaran secara umum. Menurut Kardi dan Nur ( 2000 : 27-43 ),
langkah-langkah pembelajaran langsung meliputi tahapan sebagai berikut :
1. Menyampaikan Tujuan dan
Menyiapkan Siswa
Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan
perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam
pembelajaran itu.
2. Menyampaikan Tujuan
Siswa perlu mengetahui dengan jelas, mengapa mereka
berpartisipasi dalam pembelajaran tertentu, dan mereka perlu mengetahui apa yng
harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran
itu
3. Menyiapkan Siswa
Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa,
memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali
pada hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok
pembicaraan yang akan dipelajari.
4. Presentasi dan Demonstrasi
Melakukan presentasi atau demontrasi pengetahuan dan
keterampilan. Kunci untuk berhasil ialah mempresentasikan informasi sejelas
mungkin dan mengikuti langkah-langkah demontrasi yang efektif.
5. Mencapai
kejelasan
Hasil-hasil penelitian secara konsisten menunjukkan
bahwa kemampuan guru untuk memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada
siswa, mempunyai dampak yang positif terhadap proses belajar siswa.
6. Melakukan
Demonstrasi
Agar dapat mendemontrasikan suatu konsep atau
keterampilan dengan berhasil, guru perlu dengan sepenuhnya menguasai konsep
atau keterampilan yang akan didemontrasikan, dan berlatih melakukan demontrasi
untuk menguasai komponen-komponennya.
7. Mencapai
pemahaman dan penguasaan
Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku
yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memperhatikan apa yang
terjadi pada setiap tahap demontrasi ini berarti, bahwa jika guru menghendaki
agar siswa-siswanya dapat melakukan sesuatu yang benar, guru perlu berupaya
agar segala sesuatu yang didemontrasikan juga benar.
8. Berlatih
Agar dapat mendemontrasikan sesuatu dengan benar
diperlukan latihan intensif,dan memperhatikan aspek-aspek penting dari
keterampilan atau konsep yang didemontrasikan.
9. Memberikan
Latihan Terbimbing
Salah satu tahap penting adalah cara guru
mempersiapkan dan melaksanakan pelatihan terbimbing. Keterlibatan siswa secara
aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar berlangsung
dengan lancer dan memungkinkan siswa menerpakan konsep/keterampilan pada
situasi yang baru.
10. Mengecek
Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik
Tahap ini kadang disebut juga dengan tahap resitasi,
yaitu guru memberikan beberapa pertanyaan lisan atau tertulis kepada siswa dan
guru memberikan respon terhadap jawaban siswa. Guru dapat menggunakan berbagai
cara memerikan umpan balik, sebagai missal umpan balik secara lisan, tes, dan
komentar tertulis.
11. Memberikan Kesempatan
Latihan Mandiri
Pada tahap ini guru memberikan tugas kepada siswa
untuk menerapkan keterampilan yang baru saja diperoleh secara mandiri.
C. Tujuan
Pembelajaran Lansung
Model pengajaran langsung ini dirancang khusus
untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan
prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik, yang dapat
diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Hal
yang sama dikemukakan oleh Arends (1997:66) bahwa: “The direct instruction
model was specifically designed to promote student learning of procedural
knowledge and declarative knowledge that is well structured and can be taught
in a step-by-step fashion.” Lebih lanjut Arends (2001:265) menyatakan
bahwa: ”Direct instruction is a teacher-centered model that has five
steps:establishing set, explanation and/or demonstration, guided practice,
feedback, and extended practicea direct instruction lesson requires
careful orchestration by the teacher and a learning environment that
businesslike and task-oriented.”
Pemikiran mendasar dari model pengajaran langsung
adalah bahwa siswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan
tingkah laku gurunya. Atas dasar pemikirian tersebut hal penting yang harus
diingat dalam menerapkan model pengajaran langsung adalah menghindari
menyampaikan pengetahuan yang terlalu kompleks. Model pengajaran direct
instruction mengutamakan pendekatan deklaratif dengan titik berat pada proses
belajar konsep dan keterampilan motorik. Model pengajaran direct instruction
menciptakan suasana pembelajaran yang lebih terstruktur.
D. Pengertian Model
Berbasis Masalah
Pengajaran
berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey
(dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara
stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan.
Lingkungan memberikan masukan kepada peserta didik berupa bantuan dan
masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara
efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis,
serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pendekatan
pembelajaran berbasis masalah (problem-based
learning / PBL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru
menciptakan lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang penting
dan relevan (bersangkut-paut) bagi peserta didik, dan
memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih
realistik (nyata).
Pembelajaran
Berbasis Masalah melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran
yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk
menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang
bertambah kompleks sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula
dimulai dengan melakukan kerja kelompok antar peserta didik. peserta
didik menyelidiki sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan
masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru).
Beberapa
definisi tentang Problem Based Learning (PBL) :
a.
Menurut Duch (1995,h. 201), Problem Based Learning
(PBL) merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar
bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari
permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa
ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.
b.
Menurut Arends (Trianto, 2007,h. 68), Problem
Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa
dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat
menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan tingkat
tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
c.
Menurut Glazer (2001,h.89 ), mengemukakan Problem
Based Learning merupakan suatu strategi pengajaran dimana siswa secara aktif
dihadapkan pada masalah kompleks dalam situasi yang nyata.
Dari beberapa uraian mengenai pengertian Problem Based
Learning dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning merupakan model
pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world)
untuk memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model pembelajaran inovatif
yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.
E. Langkah-langkah
Model Berbasis Masalah
John Dewey
seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika memaparkan 6 langkah dalam
pembelajaran berbasis masalah ini :
a. Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik
untuk menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran,
walaupun sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
b. Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau
masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
c. Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan
berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
d. Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan
menggambarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
e. Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam
merumuskan dan mengambil kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan
hipotesis yang diajukan
f. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah
peserta didik menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan
hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
Sedangkan
menurut David Johnson & Johnson memaparkan 5 langkah melalui kegiatan
kelompok :
1. Mendefinisikan masalah. Merumuskan masalah dari
peristiwa tertentu yang mengandung konflik hingga peserta didik jelas dengan
masalah yang dikaji. Dalam hal ini guru meminta pendapat peserta didik tentang
masalah yang sedang dikaji.
2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab
terjadinya masalah.
3. Merumuskan alternatif strategi, Menguji setiap
tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas.
4. Menentukan & menerapkan strategi pilihan.
Pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dilakukan.
5. Melakukan evaluasi. Baik evaluasi proses maupun
evaluasi hasil.
Secara umum langkah-langkah model pembelajaran ini adalah :
a. Menyadari Masalah. Dimulai dengan kesadaran akan
masalah yang harus dipecahkan. Kemampuan yang harus dicapai peserta didik
adalah peserta didik dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang dirasakan
oleh manusia dan lingkungan sosial.
b. Merumuskan Masalah. Rumusan masalah berhubungan dengan
kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data
yang harus dikumpulkan. Diharapkan peserta didik dapat menentukan prioritas
masalah.
c. Merumuskan Hipotesis. peserta didik diharapkan dapat
menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan dan dapat
menentukan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah.
d. Mengumpulkan Data. peserta didik didorong untuk
mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik
dapat mengumpulkan data dan memetakan serta menyajikan dalam berbagai tampilan
sehingga sudah dipahami.
e. Menguji Hipotesis. Peserta didik diharapkan memiliki
kecakapan menelaah dan membahas untuk melihat hubungan dengan masalah yang
diuji.
f. Menetukan Pilihan Penyelesaian. Kecakapan memilih
alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat
memperhitungkan kemungkinan yang dapat terjadi sehubungan dengan alternatif
yang dipilihnya.
Daftar Rujukan
Sumargo Eko, L. Y.
(2014). Penerapan Media Laboratorium
Virtual (Phet) Pada Materi Laju Reaksi Dengan Model Pengajaran Langsung.
Unesa Journal Of Chemical Education.
Qurnain, A. N. (2013). Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum
Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Standar. Jurnal Pendidikan
Teknik Elektro, 1027-1033.
Handayani, Sri. (2019). Pengaruh Model
Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
dan Psikomotorik Siswa Pada Pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Prambanan
(Doctoral dissertation, Universitas Ahmad Dahlan).