Sabtu, 29 Februari 2020

Model-Model Belajar dan Rumpun Model Belajar


TUGAS 

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
" Model-Model Belajar dan Rumpun Model Belajar "
 
 
 
 
Disusun Oleh:
 
Monita Utami
 
(1820180)
 
PGSD 44
 
 
 
Dosen Pembimbing:
 
Yessi Rifmasari, M. Pd.
 
 
 
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
 
PADANG
 
2020




  A.  Pengertian Model Pembelajaran Lansung
Model pembelajaran langsung ( Direct Instruction ) adalah model pembelajaran  yang menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif. Dalam hal ini guru berperan sebagai penyampai informasi, dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya film, tape recorder,  gambar,  peragaan, dan sebaganya. Informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan prosedural (yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) atau pengetahuan deklaratif, (yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi). 
Pengertian Model Pembelajaran Menurut Para Ahli, yaitu sebagai berikut:
1.     Menurut Sumargo (2014:2)  model pembelajaran langsung adalah suatu model pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa dalam mempelajari materi pelajaran yang dilakukan secara langkah demi langkah. Didalam pembelajaran secara langsung guru harus menganalisis struktur materi ke dalam langkah demi langkah sebelum menerangkan atau mendemonstrasikan materi tersebut kepada siswa agar siswa paham.
2.    Menurut Qurnain (2013:7) model pembelajaran langsung adalah sebuah pendekatan yang mengajarkan keterampilan-keterampilan dasar dimana pelajaran sangat berorientasi pada tujuan dan lingkungan pembelajaran yang terstruktur secara ketat. Di dalam model pembelajaran langsung terdapat dua tujuan utama siswa yaitu penuntasan konten akademik yang terstruktur dengan baik danperolehan seluruh jenis keterampilan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan Model pengajaran langsung ini dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah.

     B.  Langkah-Langkah Model Pembelajaran Langsung
      Menurut Sri Handayani (2019:3) Langkah-langkah model pembelajaran lansung yaitu:
1.   Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
2.  Mendemonstrasikan pengetahuan atau Keterampilan
3.  Membimbing pelatihan
4.  Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
5.   Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.
Langkah – langkah pembelajaran model pembelajaran langsung
(Direct Instruction) pada dasarnya mengikuti pola- pola pembelajaran secara umum. Menurut Kardi dan Nur ( 2000 : 27-43 ), langkah-langkah pembelajaran langsung meliputi tahapan sebagai berikut :
1.   Menyampaikan Tujuan dan Menyiapkan Siswa
Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pembelajaran itu. 
2.     Menyampaikan Tujuan
Siswa perlu mengetahui dengan jelas, mengapa mereka berpartisipasi dalam pembelajaran tertentu, dan mereka perlu mengetahui apa yng harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pelajaran itu 
3.     Menyiapkan Siswa
Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari. 
4.      Presentasi dan Demonstrasi
Melakukan presentasi atau demontrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci untuk berhasil ialah mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demontrasi yang efektif. 
5.   Mencapai kejelasan
Hasil-hasil penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan guru untuk memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, mempunyai dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. 
6.   Melakukan Demonstrasi
Agar dapat mendemontrasikan suatu konsep atau keterampilan dengan berhasil, guru perlu dengan sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan didemontrasikan, dan berlatih melakukan demontrasi untuk menguasai komponen-komponennya. 
7.   Mencapai pemahaman dan penguasaan
Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memperhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demontrasi ini berarti, bahwa jika guru menghendaki agar siswa-siswanya dapat melakukan sesuatu yang benar, guru perlu berupaya agar segala sesuatu yang didemontrasikan juga benar. 
8.     Berlatih
Agar dapat mendemontrasikan sesuatu dengan benar diperlukan latihan intensif,dan memperhatikan aspek-aspek penting dari keterampilan atau konsep yang didemontrasikan. 
9.      Memberikan Latihan Terbimbing
Salah satu tahap penting adalah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan pelatihan terbimbing. Keterlibatan siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar berlangsung dengan lancer dan memungkinkan siswa menerpakan konsep/keterampilan pada situasi yang baru. 
10.   Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik
Tahap ini kadang disebut juga dengan tahap resitasi, yaitu guru memberikan beberapa pertanyaan lisan atau tertulis kepada siswa dan guru memberikan respon terhadap jawaban siswa. Guru dapat menggunakan berbagai cara memerikan umpan balik, sebagai missal umpan balik secara lisan, tes, dan komentar tertulis. 
11.   Memberikan Kesempatan Latihan Mandiri
Pada tahap ini guru memberikan tugas kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang baru saja diperoleh secara mandiri.

     C.  Tujuan Pembelajaran Lansung
Model pengajaran langsung ini dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Hal yang sama dikemukakan oleh Arends (1997:66) bahwa: “The direct instruction model was specifically designed to promote student learning of procedural knowledge and declarative knowledge that is well structured and can be taught in a step-by-step fashion.” Lebih lanjut Arends (2001:265) menyatakan bahwa: ”Direct instruction is a teacher-centered model that has five steps:establishing set, explanation and/or demonstration, guided practice, feedback, and extended practicea direct instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning environment that businesslike and task-oriented.”
Pemikiran mendasar dari model pengajaran langsung adalah bahwa siswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan tingkah laku gurunya. Atas dasar pemikirian tersebut hal penting yang harus diingat dalam menerapkan model pengajaran langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan yang terlalu kompleks. Model pengajaran direct instruction mengutamakan pendekatan deklaratif dengan titik berat pada proses belajar konsep dan keterampilan motorik. Model pengajaran direct instruction menciptakan suasana pembelajaran yang lebih terstruktur.

      D.  Pengertian Model Berbasis Masalah
Pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada peserta didik berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning / PBL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang penting dan relevan (bersangkut-paut) bagi peserta didik, dan memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata).
Pembelajaran Berbasis Masalah melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang bertambah kompleks sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan melakukan kerja kelompok antar peserta didik. peserta didik menyelidiki sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru).

          Beberapa definisi tentang Problem Based Learning (PBL) :
a.      Menurut Duch (1995,h. 201), Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.
b.     Menurut Arends (Trianto, 2007,h. 68), Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
c.      Menurut Glazer (2001,h.89 ), mengemukakan Problem Based Learning merupakan suatu strategi pengajaran dimana siswa secara aktif dihadapkan pada masalah kompleks dalam situasi yang nyata.
 Dari beberapa uraian mengenai pengertian Problem Based Learning dapat  disimpulkan bahwa Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.

       E.  Langkah-langkah Model Berbasis Masalah

John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika memaparkan 6 langkah dalam pembelajaran berbasis masalah ini :

a.   Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran, walaupun sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
b.  Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
c.   Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
d.  Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan menggambarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
e.  Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan mengambil kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
f.   Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Sedangkan menurut David Johnson & Johnson memaparkan 5 langkah melalui kegiatan kelompok :
1.    Mendefinisikan masalah. Merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung konflik hingga peserta didik jelas dengan masalah yang dikaji. Dalam hal ini guru meminta pendapat peserta didik tentang masalah yang sedang dikaji.
2.    Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah.
3.    Merumuskan alternatif strategi, Menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas.
4.    Menentukan & menerapkan strategi pilihan. Pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dilakukan.
5.    Melakukan evaluasi. Baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.

Secara umum langkah-langkah model pembelajaran ini adalah :
a.    Menyadari Masalah. Dimulai dengan kesadaran akan masalah yang harus dipecahkan. Kemampuan yang harus dicapai peserta didik adalah peserta didik dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang dirasakan oleh manusia dan lingkungan sosial.
b.    Merumuskan Masalah. Rumusan masalah berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data yang harus dikumpulkan. Diharapkan peserta didik dapat menentukan prioritas masalah.
c.    Merumuskan Hipotesis. peserta didik diharapkan dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan dan dapat menentukan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah.
d.    Mengumpulkan Data. peserta didik didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik dapat mengumpulkan data dan memetakan serta menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga sudah dipahami.
e.    Menguji Hipotesis. Peserta didik diharapkan memiliki kecakapan menelaah dan membahas untuk melihat hubungan dengan masalah yang diuji.
f.    Menetukan Pilihan Penyelesaian. Kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang dapat terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya.




Daftar Rujukan
Sumargo Eko, L. Y. (2014). Penerapan Media Laboratorium Virtual (Phet) Pada Materi Laju Reaksi Dengan Model Pengajaran Langsung. Unesa Journal Of Chemical Education.
Qurnain, A. N. (2013). Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Standar. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro, 1027-1033.
Handayani, Sri. (2019). Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Psikomotorik Siswa Pada Pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Prambanan (Doctoral dissertation, Universitas Ahmad Dahlan).


Sabtu, 22 Februari 2020

PEMBELAJARAN DI SD

22 Februari 2020

TUGAS

STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD

Tentang

" Pembelajaran di SD "






Disusun Oleh:

Monita Utami

(1820180)

PGSD 44



Dosen Pembimbing:

Yessi Rifmasari, M. Pd.



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA

PADANG

2020




     A. Konsep Belajar
           Menurut Hanafy, M. S. (2014:68-69) Belajar dalam arti luas merupakan proses yang   memungkinkan timbulnya atau berubuhnya tingkah laku yang bukan disebabkan oleh kamatangan atau sesuatu yang bersifat sementara sebagai hasil terbentuknya respons   utama.
                Pengertian Belajar menurut para ahli, yaitu sebagai berikut: 
  1. Dimyati dan Mudjiono (2006) Belajar merupakan suatu proses internal yang kompleks, yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah yang meliputi unsur afektif, dalam matra afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, interes, apresiasi, dan penyesuaian perasaan sosial.
  2. Djamarah dan Zain (2010) Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. 
  3. Hamalik (2010) Belajar adalah bukan suatu tujuan tetapi merupakan proses untuk mencapai tujuan. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. 
  4. Hamzah (2006) Belajar merupakan suatu proses yang sistematis yang tiap komponennya sangat menentukan keberhasilan anak didik. 
  5. Menurut Hilgard & Bowner (1987 : 12) Belajar sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi dengan karakteristik-karakteristik dari perubahan-perubahan aktifitas tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecenderungan-kecenderungan reaksi asli,kematangan atau perubahan-perubahan sementara dari organisme.
     Berdasarkan pernyataan diatas belajar adalah suatu proses pemerolehan informasi yang dapat merubah perilaku sesorang baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Belajar suatu proses yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. 

    B. Karakteristik Proses Belajar

         Menurut Wina Taputra (2014:8-9), yaitu:
         
          1. Belajar harus memungkinkan jadinya perubahan perilaku pada individu.
           Belajar harus merubah perilaku yaitu perubahan perilaku dari yang buruk menjadi perilaku yang baik setelah belajar sesuatu. contohnya seperti anak yang awal tidak mengetahui bahwa berbicara harus mengunakan bahasa yang baik, setelah diberitahu oleh gurunya cara berbahasa yang baik, anak tesebut mulai membiasakan berbicara menggunakan bahasa yang baik.
         2. Perubahan harus merupakan buah dari Belajar.
                    Perubahan harus buah dari belajar yaitu perilaku  yang berubah disebabkan oleh proses belajar yang dialami oleh seseorang. contohnya, anak terbiasa memukul  temannya, hingga suatu hari anak tersebut memukul temannya dan membuat tubuh temannya merah karena bekas pukulannya, kemudian guru menasehati anak tersebut agar tidak memukul temannya lagi karena akan menyakiti temannya sendiri, dan gurupun memintanya untuk mintak maaf kepada temannya. Semenjak kejadian tersebut dia tidak perna memukul temannya lagi.

3. Perubahan itu relatif menetap.

                   Perubahan harus menetap yaitu perubahan perilaku yang terjadi setelah terjadinya proses belajar harus terus diterapkan. karena apabila perilaku belum menetap maka proses belajar tadi adalah suatu kesia-siaan. contonya anak yang awalnya duduk diatas meja kemudian ditegur oleh gurunya bahwa duduk diatas meja tidak sopan. kemudian hari anak tersebut mengulangi duduk di atas meja.

      C. Tahap Perkembangan Peserta Didik SD
                    Perkembangan siswa merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam proses belajar. Seluruh aktifitas proses belajar harus berpusat pada kebutuhan siswa (child centered) dan pada aspek tuntutan masyarakat (society centered). Fase – fase perkembangan yang dialami siswa harus dipahami oleh guru supaya dalam pembelajaran tidak mengalami hambatan psikologis yang mengakibatkan hasil belajar tidak optimal.
Perkembangan siswa sekolah dasar usia 6-12 tahun yang termasuk pada perkembangan masa pertengahan (middle childhood) memiliki fase-fase yang unik dalam perkembangannya yang menggambarkan peristiwa penting bagi siswa yang bersangkutan. Tahap perkembangan siswa dapat dilihat dari aspek Kognitif, Psikososial, dan Moral.


1 Teori Perkembangan Kognitif
   Dalam praktek pembelajaran, teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan seperti: “Tahap-tahap perkembangan” yang dikemukakan oleh J. Piaget, Advance organizer oleh Ausubel, Pemahaman konsep oleh Bruner, Hirarki belajar,oleh Gagne, Webteaching oleh Norman, dan sebagainya. Berikut akan diuraikan lebih  rinci beberapa pandangan mereka.
       Jean Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang  berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia :
                  1.  Tahapan sensorimotor (usia 0–2 tahun)
                  2.  Tahapan praoperasional (usia 2–7 tahun)
                  3.  Tahapan operasional konkrit (usia 7–11 tahun
                  4.   Tahapan operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)


2 Teori Perkembangan Psikososial

Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. 
Ericson memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang bertingkat/bertahapan. Ada 8 (delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui oleh manusia. Menariknya bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat berikutnya walau ia tidak tuntas pada tingkat sebelumnya. Setiap tingkatan dalam teori Erikson berhubungan dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika tingkatannya tertangani dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu akan tampil dengan perasaan tidak selaras.
1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)   
2. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and doubt)
3. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)        
4. Industry vs inferiority (Percaya diri vs rasa rendah diri)        
5. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas)  
6. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan)        
7. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)        
8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)

3 Teori Perkembangan Moral
Dewey pernah membagikan proses perkembangan moral atas 3 tahap yaitu: tahap pramoral, tahap konvensional dan tahap otonom. Selanjutnya Piaget berhasil melukiskan dan mengolongkan seluruh pemikiran moral anak seturut kerangka pemikiran Dewey: (1) tahap “pramoral”, anak belum menyadari ketertikatannya pada aturan; (2) tahap “konvensional”, dicirikan oleh ketaatan pada kekuasaan; (3) tahap “otonom”, bersifat keterikatan pada aturan yang didasarkan pada resiprositas. Berdasarkan pada penelitiannya, Lawrence Kohlberg berhasil memperlihatkan 6 tahap dalam seluruh proses berkembangnya pertimbangan moral anak dan orang muda. Keenam tipe ideal itu diperoleh dengan mengubah tiga tahap Piaget/Dewey dan menjadikannya tiga “tingkat” yang masing-masing dibagi lagi atas dua “tahap”. ketiga “tingkat” itu adalah tingkat prakonvensional, konvensional dan pasca-konvensional.
           D. Karakteristik Pembelajaran di SD
                  Karakteristik pembelajaran di SD di bagi menjadi 2, yaitu:
                   1.Karakteristik pembelajaran di kelas rendah
        - Kongkrit
        -Integratif
        -Hierakis
     2. Karakteristik pembelajaran di kelas tinggi.
             Siswa sudah mulai melakukan percobaa, atau eksperimen dan sudah mampu          memecahkan masalah. Siswa kelas tinggi telah dapat memecahkan masalah               sendiri dan sudah dapat berfikir secara abstrak.




Sabtu, 08 Februari 2020

Hujan

HUJAN

Hujan.....
Datang mu membawa kedamaian
Memberi kesejukan dan nikmat yang tak terhitung
Walau kadang, orang mencelah mu
Karena engkau menyebabkan bencana
Padahal itu ulah manusia sendiri,,,
Hujan,,,,
Engkau saksi bisu perjuangan malaikatku
Yang bekerja tak kenal lelah dan cuaca
Baik hujan maupun panas
Lihat,,,lihatlah malaikat ku yang mulai menua
Lihat, malaikat ku yang tak pantang menyerah,,